Walah, tenan. Isterinya tidak tahu. Ada yang tidak beres dengan adikku. Aku tidak panjang lebar. Dan uang lima juta diserahkan kepada Hanafi oleh isteriku.
00000
Kali ini Hanafi meminta bantuan lagi. Mau meneruskan pendidikan, dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Aku diminta untuk menyiapkan sejumlah uang. Uang tersebut digunakan untuk biaya hidup selama pendidikan.
Isteriku benar! Dulu dia bilang, sekali diberi kemudahan, nanti akan pinjam lagi. Ternyata kekhawatiran isteriku tidak salah.
“Jangan dikirimkan sejumlah yang dia sebutkan. Kirimkan saja satu juta. Bilang pada adikmu, ini tanggal tua. Untuk biaya hidup kami juga kurang. Uang yang dikirim untuk dia juga hasil ngutang teman.”
Beberapa hari kemudian Hanafi mengirim sms. Intinya minta dikirimi uang lagi. Untuk biaya hidup selama pendidikan, masih kurang.
“Bilang sama Hanafi. Berembuk dulu sama isterinya. Gantian isterinya disuruh mencarikan uang. Atau suruh isterinya telpon panjenengan, Yah. Kalau benar isterinya telpon, berarti isterinya tahu kalau dia mau pinjam uang kakaknya. Kalau isterinya tidak telpon, tidak usah digubris lagi sms-nya!” kelihatan isteriku emosi.
“Aku tidak tega sama adikku, Ma.”
“Panjenengan tidak tega sama kesulitan adik, tapi tega melihat isteri dan anaknya sendiri mau makan saja ikutan ngutang.”
Omongan isteriku pedas, tapi ada benarnya.
“Aku tidak mengijinkan panjenengan meminjami uang lagi. Coba renungkan beberapa hari lagi. Kebenaran ucapanku akan terbukti.”