"Mengapa kamu merasa begitu?" selidik wali kelas.
"Sepertinya teman-teman sepakat. Karena nggak suka, nggak pernah ikut, Â dan sering mangkir di ekskul paskibra, mereka nggak menyukai saya. Mereka cuek terhadap saya, cenderung beramai-ramai membenci, bahkan mengucilkan saya. Perundungan itu begitu menyakitkan. Rasanya sangat sedih dan kecewa banget!" tuturnya sambil menunduk sedih.
"Ya, sayangnya Lintang tertutup, tidak melaporkan kepada kami pihak sekolah dan orang tua bahwa kamu terkena perundungan! Jadi, kami tidak tahu persis masalahmu!" Â dalih petugas BK.
Dalam hatiku mengatakan, "Kan sebenarnya dua kali absen bisa langsung ditangani. Mengapa ini sampai berkali-kali, ya? Tapi, ya, sudahlah. Bagus kalau segera pindah saja!"
"Jadi, bagaimana agar masalah ini bisa teratasi, Pak, Bu!?" tanyaku mengalihkan perhatian.
"Jalan keluarnya memang pindah sekolah. Namun, agar bisa pindah dengan naik kelas, ada beberapa tugas yang harus Lintang lakukan!"
Demikianlah, meski masih menerima perundungan, Lintang tetap bersemangat mengerjakan tugas-tugas mengejar ketertinggalan agar bisa pindah dengan naik kelas. Meski teman-teman masih memperlakukan dengan  kurang  menyenangkan, Lintang berusaha cuek. Ia tetap fokus melaksanakan tugas yang dibebankan. Beruntung karena mendengar diizinkan pindah sekolah, Lintang melakukan dengan gembira dan tanpa beban.
***
"Dendam dan sakit hati itu, jangan dibalas dengan tindakan sama! Balaslah secara elegan!" petuahku.
"Caranya?"
"Tunjukkanlah bahwa kamu lebih baik daripada mereka,  memiliki prestasi di atas  mereka! Ada sesuatu yang membanggakan dan tidak mereka miliki. Syukur-syukur kamu bisa diterima di perguruan tinggi sesuai cita-citamu. Bahkan, akan lebih menyakitkan mereka kalau kamu bisa meraih melebihi dari ekspektasimu!"