"Ah, ngana bakusedu, kang? (bercanda kamu, ya)." Radika beranjak menuju kotak kaca besar setinggi dirinya yang tergantung di dinding di ruang itu. Ia pun terkejut namun dengan nada datar ia berucap. "Cuma kwa da tatoki di pintu baru-baru (ini hanya terbentur di depan pintu barusan)... iya, jangan khawatir. Sebentar juga sembuh." Dari balik kata-katanya ada rasa malu menggelitiknya.
Dengan menyembunyikan rasa kegeliannya, Riana tertawa sendiri sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tak ada rasa sakit atau pun cemburu di hatinya. Rasa itu mungkin telah mati. Sesuatu yang pada awalnya sakit, lama-kelamaan akan terbiasa bahkan mati rasa jika hal itu terus-menerus berlaku atas diri seseorang, juga bagi Riana. Itu Pasti dijilat setan. Setan laknat yang telah merengut hati Fildan. Hmm... batinnya.***
Nah, itulah penggalan kisah yang menggunakan kosakata bahasa sehari-hari Manado.
Berikut cuplikan cerita yang menggunakan kosakata bahasa Sangihe!
"Kamu kenapa, Ri?" tanya Tenof.
Hanya ada tatapan nanar nampak di mata Riana. hatinya tak mampu berbohong.
"Pahedoe (tunggulah)... Isie mang dumenta mesema ikau (dia pasti datang menemuimu)."
"Aku tak terlalu berharap, Ten..."
"Hodong pemanda Ikau eng (lihat saja nanti)!"***
Hanya mengingatkan saja, setiap kata serapan yang belum termasuk kata baku penulisannya harus miring. Kata yang ditulis miring pada tulisan ini, itu artinya kosakata tersebut masih tergolong kata yang tidak baku. Jika ada yang lolos, maka salahkan saya, dan mohon dimaafkan.
Gimana? Punya kosaka untuk disumbangkan ke dalam bahasa Indonesia?Â