“Waktu aku kecil di Tembung, aku sering main layangan. Adu layangan juga. Tapi aku jarang menang. Sekarang lagi musim layangan, ya?”
“Iya, sore ini di pantai banyak anak-anak adu layangan. Kau mau ikut?”
“Ah, aku lihat-lihat saja kau mainlah,” jawabku.
“Kenapa?”
Nanti aku harus cepat pulang. Aku mau bantu Ibu mengemasi barang yang akan dibawa pindah,” jawabku.
“Apa bapak kau sudah dapat rumah di sana?”
“Belum. Tapi sore nanti bapak akan mendapat jawaban dari Pak Fakhurudin, teman bapakku. Pak Fakhrudin yang membantu mencarikan rumah kontrakan di sana.”
Din Patuk diam. Kerjaannya telah selesai.
“Kau masuk ke SMP mana?” tanyaku kepada anak itu. Sesaat dia memandang ke arahku. Lalu tersenyum.
“Inginnya sih SMP Negeri 1, tapi sainganku di sana hebat-hebat. Pintar-pintar. Anak orang kaya semua. Tak mungkinlah aku bisa lulus masuk ke situ. Paling bisa masuk ke SMP 2.”
“Cobalah dulu, jangan kalah sebelum berjuang, kawan?”