Mereka mulai bergerak maju, berusaha untuk mendekati sosok berbaju hitam, tetapi bayangan terus menyerang. Adit mengangkat keris, dan saat dia melakukannya, cahaya memancar dari keris, menembus kegelapan.
"Serang!" teriak Budi, dan mereka semua menyerang bersamaan. Cahaya dari keris semakin kuat, dan bayangan-bayangan itu terpecah. Namun, sosok berbaju hitam tertawa, seolah tidak terpengaruh oleh serangan mereka.
"Cahaya tidak akan pernah bisa mengalahkan kegelapan," dia berkata dengan sinis. "Kau akan menyesal telah kembali ke sini."
Adit merasa putus asa, tetapi sosok anak kecil yang selalu membantunya muncul di pikirannya. "Jangan menyerah, Adit. Kau memiliki kekuatan di dalam dirimu," suara itu berbisik dalam hatinya.
Dengan semangat baru, Adit berteriak, "Kita harus bersatu! Kita bisa melawan ini!"
Mereka semua mengangguk, dan bersama-sama, mereka mulai mengalirkan energi ke keris. Adit merasa kekuatan dari teman-temannya mengalir bersamanya. "Sekarang!" teriaknya.
Cahaya dari keris semakin terang, memancarkan sinar yang menghancurkan bayangan-bayangan di sekeliling mereka. Namun, sosok berbaju hitam tidak menyerah. Dia mulai mengeluarkan energi gelap dari tubuhnya, dan hutan bergetar.
"Cahaya akan hancur dalam gelap!" dia berteriak, mengeluarkan gelombang kegelapan yang menakutkan.
Adit merasa hampir tidak mampu bertahan. Namun, dia ingat janji yang dia buat untuk melindungi hutan. "Kita tidak akan membiarkanmu menang!" dia teriak, dan mengarahkan keris langsung ke sosok berbaju hitam.
Dengan segenap kekuatan yang dia miliki, Adit mengayunkan keris, dan cahaya meledak dari ujungnya, menembus gelombang kegelapan. Sosok berbaju hitam berteriak kesakitan saat cahaya menyentuhnya, tetapi dia masih berdiri tegak, terlihat semakin marah.
"Kau tidak akan mengalahkan aku!" teriak sosok itu, tetapi Adit merasakan sesuatu yang berbeda. Keris itu bergetar lebih kuat dari sebelumnya, seolah memiliki kekuatan yang lebih besar dari yang dia duga.