"Anak-anak, penyambutan sudah selesai. Â Kita pulang sekarang. Â Jalan kaki." Â Guru Manaor mengarahkan murid-muridnya untuk pulang kembali. Â "Langsung pulang ke rumah masing-masing, ya."
"Jadi, cuma begitu saja? Â Kita harus menderita pulang? Terik begini? Lapar pula? Jalan kaki enam kilometer? Â Demi ratu dan pangeran negeri penjajah?" Â Poltak menggerutu panjang dalam hati. Â Dia sungguh tak paham apa artinya merdeka dari penjajahan Belanda.
"Sengsara kalilah kita ini, Gurunami," Â Poltak mengeluh di tengah perjalanan pulang beramai-ramai. Â
"Poltak, jangan mulai lagi. Â Bersyukur kita bisa berjalan di jalan aspal. Â Jalan raya ini, dulu, Belanda yang bikin." Â Guru Marihot mengingatkan Poltak.
"Bah, apa pula enaknya jalan di aspal panas. Â Tapak kakiku melepuhlah," keluh Poltak pelan, tak sampai terdengar Guru Marihot. Â Murid-murid SD Hutabolon tak seorang pun mengenakan alas kali. Â Semua kaki ayam.
"Ayolah, Poltak. Â Jangan merepet terus. Â Nanti cepat tua pula kau." Suara lembut mengingatkan Poltak dari sebelah kiri. Â Poltak menoleh. Ada Berta di situ, dengan selarik senyum di bibirnya.
Poltak mendadak bersemangat. Â Lupa derita karena penjajahan Belanda. Â Dia berlari mengejar Bistok dan Binsar yang sudah agak jauh di depan.Â
"Poltak! Tunggu aku!" teriak Berta yang tertinggal di belakang. (Bersambung)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI