Saat kuarahkan pandanganku pada suara itu, ternyata itu Justin. Dia adalah pria yang kusukai di sekolah, yang selalu membantuku saat ada orang yang ingin menyakitiku.
"Lisa, apa yang telah kau lakukan? Kau tidak seharusnya melakukan semua ini." Justin membujukku untuk mengakhiri pembantaian ini. Tapi tekadku untuk memutus mata rantai keluarga ini sudah bulat.
"Justin, maafkan aku." Kutarik kedua pelatuk pistol itu.
Dor
Tubuhku menjadi lemas, lalu terjatuh.
"LISAAA." Teriak Justin, menangkap tubuhku dan merangkulnya.
"Jangan bergerak!" Segerombolan polisi datang, menangkap semua anak buahku dan menyeretnya keluar.
Air mata Justin membasahi pipiku. Ia menangis tersedu-sedu melihatku yang tak berdaya. Peluru itu mematahkan beberapa tulang rusukku dan menembus ke dalam jantungku. Rasanya sangat sakit. Tetapi aku senang, orang yang kucintai mendampingiku saat sebelum aku pergi.
"Justin, kau harus tahu satu hal."
Justin hanya menundukkan kepala dan terus meneteskan air mata.
"Kau adalah satu-satunya orang yang aku cintai di dunia ini." Justin hilang dari pandanganku dan semuanya menjadi gelap.