"Kak Rara..." ia tidak merespon panggilanku.
"Kaaak, buka pintunya kak." Aku gerak-gerakkan gagang pintu kamar Kak Rara dengan keras.
Ceklek
Ceklek
Ceklek
"PERGI!" Teriak Kak Rara dari dalam kamar
Aku terus gerak-gerakkan gagang pintu itu, sampai akhirnya rusak dan pintu kamar Kak Rara terbuka sendirinya. Saat aku masuk ke dalam, terlihat Kak Rara berat di sudut kamarnya dengan posisi berjongkok, terngengeh ketakutan. Ditemani dengan boneka yang ia peluk, ia menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Dari raut wajahnya, Kak Rara tampak sok dan panik saat melihat wajahku, tak ubahnya kambing kecil yang tertinggal dari kawanannya saat melihat seekor serigala yang akan menerkamnya.
"Kak Rara jangan takut, aku masih polos kayak dulu kok." Kuusap kedua pipi Kak Rara yang dibasahi genangan air mata.
"Lisa, maafin kakak!" Kakak tiriku itu mengepal kedua tangannya di hadapanku, mengharap aku mengasihinya.
Sepintas aku merasa kasihan melihat Kak Rara yang bertekuk lutut di hadapanku. Tapi kalau mengingat apa yang pernah ia lakukan kepadaku, dengan membuatku menjadi bahan tertawaan para siswa seantero sekolah, maka jalan untuk menebus dosanya hanya satu. Dia harus mati di tanganku.