"Wah, ada ya, Bang. Alhamdulillah."
Aku terbelalak melihat buku Torey Hayden yang masih terlihat baru. Sejenak, aku terlupa pada penampilan baru sahabatku itu.
"Saya juga suka buku itu, Mbak. Ada beberapa lagi karya Torey Hayden yang ada di sini. Waktu itu yang menjualnya butuh uang. Lihatlah, bukunya masih baru kan." Jelas si Abang singkat.
Aku juga ikut memperhatikan buku itu. Pastinya, yang memiliki buku itu adalah seorang yang sangat menyukai buku dan merawatnya dengan baik.
Setelah agak jauh dari lapak, aku ingin menuntaskan rasa penasaranku.
"Fa, mengapa kamu cepat sekali berubah?"
"Berubah apanya?"
"Itu. Kamu sudah berjilbab!"
"Ah, inikah hijrah. Ini hasil membaca buku bonus si Abang," jawabnya sambil meletakkan kresek yang berisi buku ke dalam tas ranselnya.
"Ih, mengapa tidak cerita dulu sama aku?" Aku merenggut.
"Perbuatan baik itu harus dilakukan segera. Jangan ditunda," jawabnya. Aku duduk di belakang Ifa dan masih dengan rasa penasaranku.
Dia mengantarku sampai ke rumah.
"Eit, tunggu. Aku boleh pinjam buku bonus si Abang kan?" tanyaku.
"Ini. Aku sudah selesai membacanya. Dibaca ya. Dah!" Dikeluarkannya sebuah buku tipis berjudul Hijrah dan diberikannya kepadaku. Setelah itu, dia melajukan motor dan segera hilang dari pandanganku.
***
Kubuka buku berjudul Hijrah itu. Isinya murni pengalaman perubahan pada diri seseorang. Setelah membaca buku itu, aku malah bertambah bingung. Bingung pada perubahan Ifa. Bingung mengapa aku tidak berubah seperti Ifa. Apa yang membuat Ifa berubah begitu cepat dari penampilan tomboinya? Aku mengeryitkan dahi. Bertambah penasaranlah aku karenanya. Membaca membuatku bertambah bingung, pikiranku menjadi kalut. Kuambil ponselku dan kuketik nomor Ifa.
"Ifa, aku sudah membaca buku si Abang, tetapi aku tidak mengerti mengapa bisa membuatmu mengubah penampilan?"