Dimulai pada 8 Mei tahun ini, sejak Donald Trump mengumumkan pengunduran dirinya dari kesepakatan nuklir Iran, kontes kebijakan luar negeri dan serangan verbal antara AS dan Iran tidak pernah berhenti untuk sesaat pun.
(baca tulisan penulis 26 Juni 2018 lalu  Strategi Baru AS terhadap Iran dan Kebijakan Timur Tengahnya )
Kini tampaknya pedang Democles telah tergantung di atas kepala Iran siap untuk ditebangkan ke lehernya. Pada 7 Agustus lalu, babak pertama sanksi AS terhadap Iran dimulai, menandai dimulainya pemerintahan Trump secara praktis memperketat kembali jerat yang telah diletakkan di sekitar leher Teheran.
Saat ini, yang menjadi perhatian masyarakat internasional adalah apakah intrik antara AS dan Iran berkembang ke arah pembicaraan damai atau menuju ke arah perang.
Seruan AS terkini: Anyone doing business with Iran will not be doing business with the US! (Siapa pun yang berbisnis dengan Iran tidak boleh berbisnis dengan AS!)
Pada 7 Agustus, setelah Presiden AS Donald Trump membuat ancaman kuat di Twitter, AS akhirnya memainkan "bola keras" untuk sanksi ekonomi terhadap Iran.
Dihadapkan dengan sanksi yang ditrapkan kembali AS ini, Presiden Iran Hassan Rouhani tidak gentar, dan membuat tanggapan yang keras.
Rouhani mengatakan: Saya percaya bahwa jika kita dapat bersatu bersama, kita dapat dengan cepat membuat Amerika menyesali perbuatan mereka.
Rouhani mengatakan Iran masih dapat mengandalkan Tiongkok dan Rusia untuk menjaga sektor minyak dan perbankannya tetap bertahan, dan juga menuntut kompensasi selama beberapa dekade "intervensi" AS di negaranya. Demikian ABC News melaporkan.
Sejak 8 Mei, ketika AS secara sepihak mengumumkan penarikan dirinya dari kesepakatan nuklir Iran, konflik antara AS dan Iran secara bertahap terus meningkat.