Pengaruh Terhadap Harga Minyak Dunia & Tekanan Terhadap Keuangan Saudi
Pada hari Arab Saudi mengumumkan putusnya hubungan diplomatik dengan Iran, harga minyak internasional melompat juga. Tapi setelah itu mulai menurun.
Dengan kedua negara ini merupakan negara penghasil energi utama, apakah dengan putusnya hubungan Iran dan Saudi akan mempengaruhi pasokan energi seluruh dunia? Apakah akan ada perang yang lebih mendalam di balik pemutusan hubungan diplomatik ini?
Setelah berita Arab Saudi dan Iran menjadi topik, harga minyak New York naik sekitar 3% mencapai 38 USD per barrel. Harga minyak mentah Brent juga naik lebih dari 2%. Tapi kenaikan itu hanya sesaat, karena setelah itu mulai terjadi keseimbangan lagi. Pada banyak situasi sebelumnya, meningkatnya ketegangan di Timteng secara otomatis menyebabkan harga minyak naik.
Namun kali ini pemutusan hubungan Iran dan Arab Saudi, kenaikan harga tidak terjadi.
Harga minyak pada tahun 2015 berada di tingkat rendah cukup lama, yang memberi tekanan langsung pada keuangan Arab Saudi, menyebabkan defisit keuangan negara pada 2015 mencapai rekor US$ 98 milyar, dengan meningkatnya defisit mendorong Arab Saudi yang selalu memiliki sistem kesejahteraan sosial tinggi mulai mengurangi.
Pemerintah Arab Saudi telah menaikan harga bahan bakar, air, listrik. Tekanan keuangan ini mungkin menyebabkan Arab Saudi untuk memproduksi minyak mentah lebih banyak untuk mendapatkan dana lebih banyak.
Saat ini di pasar pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Dengan keadaan demikian tidak dapat dihindari harga minyak internasional menjadi jatuh.
Jadi pertanyaannya apakah Arab Saudi akan terus begini dan bahkan memperbesar produksinya sampai batas tertentu, karena jika meningkatkan ekspor bisa menjatuhkan harga minyak mereka dan mengurangi keuntungan mereka. Mereka memiliki jumlah besar sumber daya ini, sehingga bisa saja mereka akan tidak perduli apakah mereka mengekspor dua juta barrel untuk US$ 10 milyar atau tiga juga barrel untuk US$ 10 milyar juga. Yang mereka perdulikan adalah keuntungan sebenarnya untuk mereka sendiri.
Setelah masyarakat internasional melepaskan sanksi terhadap Iran, tampaknya Iran juga bermaksud meningkatkan pasokan minyak menyak ke pasar internasional.
Sebelum kena embargo mulai pada tahun 2012, Iran menggirim minyak mentah sekitar 600 ribu barrel per hari ke Eropa, setara dengan 17% dari produksi negara. Menteri Perminyakan Iran, Bijan Namdar Zanganeh pernah mengatakan bahwa tugas utama Iran adalah untuk kembali ke pangsa pasar yang telah hilang, tidak perduli seberapa harga minyak akan terpengaruh.
Hamid Hosseini, Presiden Union Produksi Minyak Iran, memperkirakan setelah situasi politik menjadi tegang, Iran dan Arab Saudi akan meningkatkan persaingan mereka di pasar minyak mentah. Selain itu juga kembalinya Iran ke pasar Eropa mungkin akan menawarkan persyaratan kredit yang lebih baik dalam perdagangan minyaknya.
Kemampuan produksi minyak Iran telah kehilangan dari masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlevi, dimana saat itu Iran menghasilkan maksimum 6 juta barel per hari, saat ini hanya sekitar 3 juta brel per hari, menyusut sekitar 3 juta barel.
Setelah sanksi terhadap Iran dicabut, Iran bertekad untuk meningkatkan produksi mereka 3 juta hingga 4 juta barel perhari dalam waktu relatif singkat. Hal ini juga yang tidak diinginkan Arab Saudi.
Pada 2015 pasar khawatir tentang kelebihan pasokan yang menyebabkan harga minyak jatuh drastis. Arab Saudi mengikuti saran dari mantan Kepala Staf Gedung Putih, Rahm Emanuel yang menyarankan jangan menyia-nyiakan kesempatan yang dibawa oleh krisis. Arab Saudi memiliki cadangan minyak terbesar dan termurah minyak dunia, dan tiba-tiba menolak untuk menurunkan produksi. Pada saat yang sama, Arab Saudi menjual minyak dengan harga diskon kepada kliennya di Asia dan Eropa.
Pada Desember tahun lalu, Arab Saudi memproduksi sekitar 10,5 juta barel minyak per hari. Dengan kata lain, produksi minyak harian Arab Saudi telah melebihi 10 juta barel selama sembilan bulan. Ini merupakan periode waktu terpanjang produksi yang melampaui batas dalam beberapa dekade ini.
Ini benar-benar tidak menguntungkan bagi siapapun. Hal ini yang sebagian besar menyebabkan pasar minyak internasional kelebihan pasok, dan harga minyak jadi jatuh. Arab Saudi coba menggunakan metode ini untuk menghantam Iran, agar Iran tidak bisa menghasilkan uang. Demikian menurut beberapa pengamat dan analis.
Saat ini memang Iran lebih membutuhkan uang daripada Arab Saudi, tapi dari pertarungan ini, apa mau Arab Saudi akhirnya menjadi lebih“miskin”(defisit keuangan).
OPEC menyatakan akan mengkoordinasikan hal ini, dan akan memberi ruang kepada Iran tersendiri. Tapi melihat situasi saat ini, sulit bagi mereka untuk melakukan itu dalam situasi demikian. Yang sangat mungkin terjadi adalah minyak Iran akan mengalir kembali seperti sebelumnya, dan kuota negara-negara lain juga tidak akan berkurang, bahkan beberapa negara justru akan meningkatkan kuotanya, dengan demikian tentu akan menyebabkan harga minyak terus mengalami tekanan besar.
Perubahan Di Iran
Setelah pemerintah Hassan Rouhani memerintah, masalah nuklir Iran berhasil diselesaikan, dan menciptakan lingkungan internasional yang lebih baik bagi Iran.
Pada Pebruari tahun ini, Iran akan mengadakan pemilu untuk Parlemen dan Sidang delapan tahunan pemilihan Assembly of Expert Election ( Majelis Ahli/MA). Yangmana mantan MA bisa menveto UU dari Dewan Iran. MA terakhir atau terpilih akan memutuskan calon Pemimpin Agung Iran (Pemimpin Tertinggi Iran).
Saat ini, dua badan ini dikendalikan oleh Partai Konservatif dimana Presiden Hassan Rouhani berasal. Pemerintah Rouhani berharap mereka dapat melanjutkan ekspor minyak mentah sebelum pemilu, dan menyediakan dana pemerintah untuk partai mereka selama kampanye.
Pemerintah AS juga berharap Hassan Rouhani dan golongan moderat Iran lainnya dapat menggunakan pemulihan ekspor minyak mentah untuk mendapatkan keuangan pemerintah, terutama karena Majelis Ahli yang diadakan setiap delapan tahun akan diadakan pada 26 Pebruari untuk memutuskan Pemimpin Tertinggi Iran.
Dengan pertimbangan ini, sikap pemerintah AS terhadap Iran tampaknya sangat “bersahabat.”
Dalam batas tertentu, tercapainya perjanjian nuklir Iran memperkuat posisi Hassan Rouahni, dan mendorong pemeritnah Iran untuk berkembang kearah yang lebih relaksasi lebih lanjut, dalam situasi demikian diharapkan membentuk siklus positif dan kesempatan untuk muncul.
Ada analis yang melihat kesempatan untuk siklus positif telah muncul untuk urusan luar negeri pemerintah Iran. Aspek lain adalah situasi saat ini sangat menguntungkan bagi Iran.
Setelah Perang Irak, keseimbangan kekuasaan asli di Timteng telah rusak. Setelah musuh alami Iran telah tersingkir, Iran tumbuh dengan kuat di Teluk, dan bersekutu dengan Irak, Syria dan Hizbullah di Lebanon, sehingga memaksa Arab Saudi untuk berkontes secara terbuka maupun rahasia di kawasan ini.
Dengan tercapainya perjanjian nuklir Iran, Sanksi Barat sedang dilepas, sehingga kenaikan Iran dengan skala penuh akan terjadi dalam waktu dekat ini.
Untuk kawasan Teluk, kontes kekuasaan antara dua kekuatan utama Arab Saudi dan Iran telah berubah. Di masa lalu dalam batas tertentu kekuatan seimbang. Tapi sekarang, Iran jelas memiliki keuntungan, dan keuntungannya terus meningkat. Dan bagi Arab Saudi, situasi mungkin yang paling mendesak, dan bahayanya paling relistik. Hal ini bisa terlihat Iran sebagai negara yang tidak bersahabat, dan tumbuh lebih kuat.
Jadi kita bisa melihat keprihatinan ini. Jika dilihat dari segi jangka panjang, tantangan kedua adalah masalah isu regional. Kita sebagian bisa melihat Yaman, Syria, and Irak adalah wakil dari kekuatan Syiah. Pemerintah sentral Irak, pemerintah Syria, dan bahkan kekuatan Syiah di Lebanon dan anti-pemerintah di Yaman (Houthi-Syiah), mereka setidaknya pada saat yang sama memiliki sedikit kekuatan yang seimbang bahkan lebih menguntungkan atau unggul.
Sejauh untuk masalah regional, Arab Saudi mungkin tidak memiliki keuntungan atau keunggulan, jika kita gali lebih mendalam, keunggulan kekuatan nasional Arab Saudi terletak pada kemampuan keuangan, yang bergantung pada ekspor sumber daya yang kaya yaitu minyak, dan akumulasi kekayaan yang tinggi dari harga minyak pada beberapa tahun yang lalu. Kemampuan keuangan dan pendanaan jelas bisa berpengaruh.
Saat ini dengan rendahnya harga minyak jelas telah sangat memukul. Kita bisa melihat saat ini Arab Saudi telah defisit sebasar US$ 90 milyar, jadi jika dilihat dari keadaan sekarang, tidak perduli seberapa besar cadangan devisanya, tapi sedang terus berkurang banyak. Jadi dari perspektif Arab Saudi, mereka telah kehilangan keuntungan tradisional, dan jika semua faktor-faktor ini digabungkan, kita dapat melihat sangat jelas betapa cemasnya Arab Saudi.
Setelah Arab Saudi dan Iran memutuskan hubungan, Deplu AS dengan cepat mengeluarkan pernyataan yang mengutuk Iran dengan dibakarnya Kedubes Arab Saudi di Iran, tetapi hanya sebatas menyatakan “keprihatinan” kepada Arab Saudi yang mengeksekusi Sheik Syiah Nimr yang terkenal.
Perbedaan dalam pernyataan ini membuat jelas sikap AS yang berbeda terhadap sekutu dan non-sekutu. Namun dalam tindakan yang jarang terlihat sebelumnya, Arab Saudi menyatakan tidak terlalu perduli dengan apa yang ditunjukkan dengan sikap AS ini.
Beberapa analis percaya pemutusan hubungan Arab Saudi terhadap Iran ingin mengungkapkan ketidak senangan dirinya terhadap AS.
Pada konferensi pers yang diadakan 4 Januari lalu, Juru bicara Deplu AS, John Kirby pertama meminta Arab Saudi dan Iran untuk menahan diri dan menjaga konflik tidak meningkat, dan menyatakan bahwa Menlu John Kerry sudah kontak dengan Arab Saudi, dan akan mengkoordinasikan upaya-upaya regional untuk mengatasi masalah tersebut melalui dialog.

Tapi ketika berbicara tentang Arab Saudi, Kirby membuat pernyataan yang sama sekali berbeda. “Mengenai eksekusi di Arab Saudi, kami terus mendesak Arab Saudi untuk memastikan proses peradilan yang adil dan transparan dalam semua kasus, dan kami telah menyatakan keprihatinan khusus dalam hal eskskusi ulama Syiah Nir al-Nimr.”
Meskipun AS menunjukkan dukungan kepada Arab Saudi dalam masalah pemutusan hubungan diplomatik, laporan Reuters mengatakan bahwa Arab Saudi tidak merasa bersyukur, dan mengatakan bahwa mereka “tidak perduli” dengan apapun pendapat kami (AS).
Ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa sebelum peristiwa ini, pemerintah Saudi telah sepenuhnya memperkirakan konsekuensi dari pemutusan hubungan.
Menurut memorandum pemerintah Saudi yang bocor ke “Guardian” Inggris dari kelompok hak asasi manusia Arab Saudi, sebelum mengeksekusi Sheikh Syiah Nimr al-Nim, Arab Saudi telah meperkirakan bahwa Iran akan memberi respon yang keras. Dalam surat yang ditanda-tangani dan dikirim oleh kepala Biro Keamanan Riyadh, pejabat Saudi meminta agar semua perayaan Tahun Baru dibatalkan, dan diambil “tindakan pencegahan.”
Presiden dari “National Iranian American Council” AS, Trita Parsi mengatakan alasan pentingnya bagi Arab Saudi yang begitu proaktif dalam mengambil tindakan baru-baru ini adalah AS. sikap AS terhadap Iran telah melunak, kedua negara ini bahkan telah tumbuh menuju rekonsiliasi, dan hal ini adalah sesuatu yang Arab Saudi tidak suka.
Tirta Parsi lebih lanjut mengatakan “Selama sepuluh tahun terkahir, Arab Saudi percaya bahwa perubahan situasi geopolitik di kawasan itu tidak lagi untuk kepentingannya.”
“The Huffington Post” pecaya bahwa penundaan sanksi pemerintahan Obama baru-baru dalam hal rudal Iran telah mengirim sinyal yang kuat ke Arab Saudi. Arab Saudi cendrung makin percaya selain masalah nuklir, AS dapat mencapai kompromi dengan Iran tentang isu apa saja.
Dalam hal gangguan masalah diplomatik antara Arab Saudi dan Iran, AS sangat tegas mengeritik Iran atas dibakarnya kedutaan Arab Saudi, dan juga meminta agar kedua belah pihak tetap tenang. Namun Arab Saudi pasti tidak akan mendengarkan AS. “Mengapa kita harus tetap tenang? Semua ini telah memprovokasi kita, tapi Anda meminta kita untuk tetap tenang? Anda telah mengambil keuntungan dari kita untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan, dan bagaimana Anda meminta kita untuk tetap tenang?”Demkian perkiraan opini analis.
Arab Saudi pasti tidak akan mendengarkan AS tentang itu. Dengan aliansi tradisional mereka, kebijakan luar negeri Arab Saudi selalu selaras dengan AS dengan harapan hal itu bisa menerima perlindungan dari AS, dan menjadi kekuatan utma di kawasan ini.
Dan Arab Saudi tidak pernah mengendorkan kewaspadaanya ketika datang kekuatan utama di kawasan ini---Iran. Mulai dari Revolusi Iran pada tahun 1979, Arab Saudi telah berjaga-jaga dengan munculnya Iran. Dan selama 8 tahun Perang Iran-Irak yang diluncurkan Irak atas dukungan Arab Saudi.
Dalam Perang Iran-Irak, alasan penting mengapa Saddam Hussein bisa berperang selama delapan tahun dengan sengit pasca revolusi Iran, sampai Iran menerima kesepakatan gencatan senjata adalah berkat dukungan dari hampir semua nagara-negara Arab, terutama dukungan dari Arab Saudi. tanpa ada dukungan ini, Saddam Hussein tidak akan mampu bertahan selama itu. Dia tidak mempunyai uang untuk melakukan perang ini.
Tetapi selama tahun 1990an, situasi di Timteng cepat berubah. Irak dan para sekutunya berubah dari sekutu di mata AS dan Arab Saudi, kini menjadi musuh.
Pada tahun 2003, pemerintah Bush menuduh Sddam Hussein berkolusi dengan Al Qaeda yang menyebabkan dibalik serangan teroris 9-11. Dengan bimbingan AS, pemerintahan Hussein digulingkan, dan perbedaan besar terjadi antara Arab Saudi dan AS untuk masalah bagaimana memperlakukan Irak.
Arab Saudi adalah kekuatan utama, juga memiliki hubungan yang cukup baik dengan AS. Karena itu secara diplomatik relatif stabil. Ketika mempertimbangkan keinginan AS, dalam banyak kasus akan mendengarkan AS. Tapi itu hanya terjadi pada pada tahun 2003, ketika AS meluncurkan Perang Irak dan menggulingkan Saddam Hussein, Arab Saudi menentang keras.
Hal itu bukan biasanya bersikap beroposisi dengan intens dengan AS, karena Arab Saudi telah memperingatkan AS sejak awal bahwa menggulingkan Hussein, akan ada kekacauan yang tak akan terselesaikan di Irak, yang gilirannya akan memberikan Iran peluang besar. Tapi AS tidak mau mendengarkannya. Sejak saat itu, Arab Saudi menjadi sangat kecewa dengan AS.
Setelah pemerintahan Obama memerintah, diadakan penyesuaian kebijakan AS di Timteng, secara garis besar cendrung meningkatkan hubungan antara AS dan Iran. Ahli dari “The Foundation for Defense of Democracies”(Yayasan Pertahan Demokrasi), Tony Badran menunjukkan bahwa pada masa lalu, AS telah memainkan peran “mediator” di Timteng, tapi sekarang berada pada titik dimana pengaruhnya telah berada pada titik terendah.
Obama perlu kerjasama dengan Iran untuk memastikan bahwa perjanjian nuklir Iran akan berjalan dengan sukses. Warisan politik Obama berada di tangan Iran. Pemerintahan Obama berusaha untuk menciptakan sebuah tatanan Timteng baru dan meningkatkan pengaruh regional Iran. Bahkan jika Iran tidak bisa menjadi pemimpin, AS ingin Iran menjadi salah satu negara inti di Timteng.
Tentu saja skala ini jelas miring ke arah Iran. AS sebelumnya selalu mengambil langkah-langkah untuk menekan Iran, dan menggunakan isu nuklir untuk menekan Iran, menjatuhkan sanksi Iran dan melakukan ancaman militer kepada Iran. Jadi sampai batas tertentu, itu tetap masih bisa mempertahankan keseimbangan kekekuatan di kawasan tersebut.
Tapi pada tahun 2013, kebijakan AS mengalami perubahan besar. Dengan kata lain , sementara pada masa lalu telah menggunakan masalah nuklir untuk menekan Iran, di mulai 2013, AS mulai bernegosiasi mencari resolusi untuk masalah ini dengan Iran, dan pada 14 Juli 2105, perjanjian nuklir Iran akhirnya tercapai.
Tercapainya perjanjian ini secara luas dipandang sebagai pengendoran atas pengekangan terhadap Iran.
“Wall Street Journal”AS, mengatakan dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada 4 Januari lalu, bahwa AS khawatir memburuknya hubungan Arab Saudi-Iran dapat menyebabkan pelaksanaan kebijakan AS di kawasan tersebut menjadi sangat rumit, terutama untuk masalah penyelesaian Syria. Artikel itu mengatakan, insiden meningkatnya ketegangan yang meningkat menjadi pemutusan hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran selama beberapa pekan ini juga akan menjadi kesulitan yang tak terduga dalam resolusi yang sudah komplek tentang krisis Timteng di bawah pemerintahan Obama.
“Terorisme” dan isu Syria selalu menjadi titik fokus dari isu-isu Timteng saat ini, dan masalah ini tidak dapat diselesaikan tanpa partisipasi dari dua kekuatan utama di Timteng: Arab Saudi dan Iran.
Kini mereka dengan tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik, pasti akan menyebabkan situasi menjadi rumit, dimana baru saja terlihat secerca harapan, dan kini menjadi lebih serius.
Jadi bagaimana kiranya situasi di Timteng akan berkembang di masa depan?
Pada 2015, berbagai kekuatan nasional sebagian besar diwakili oleh AS dan Rusia yang mengadakan negosiasi mengenai bagaimana menyelesaikan dengan damai masalah Syria.
Semua pihak menyetujui PBB memimpin promosi proses perdamaian Syria, dan pada 18 Desember 2015, Dewan Keamanan PBB meluluskan proses perdamaian Syria.
Dalam perang sipil Syria, Iran telah bersekutu dengan pemerintah Syria, tetapi Arab Saudi telah mendukung oposisi Syria, Tetapi untuk menyelesaikan konflik ini hampir lima tahun, dengan mediasi masyarakat internasional, pemerintah Syria telah mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan beberapa faksi oposisi Syria.
Namun, negosiasi antara semua pihak yang dijadwalkan akhir bulan Januari ini, tampaknya akan mengalami kesulitan untuk mencapai sesuatu, karena adanya pertengkaran antara Arab Saudi dan Iran.
Krisis pemutusan hubungan diplomatik bisa menyebabkan situasi perang di Syria dan daerah lainnya di Timteng akan lebih tidak tahu lagi arah perkembangannya.
Saat ini, situasi umum di Syria adalah salah satu yang masih berperang saat perundingan. Mereka tidak akan berhenti berperang hingga perundingan selesai, tidak pula mereka berhenti berunding karena mereka sedang berperang, dan kini mereka sedang dalam keadaan berperang saat berunding. Dan persaingan Arab Saudi dan Iran jelas saling berkontes dalam perang ini.
Karena kemajuan dalam perang di darat akan mempengaruhi proses perundingan, dan akan menjadi kondisi dalam perundingan, dimana pihak-pihak yang harus membuat konsesi, yang akan mempengaruhi fleksibilitas proposal. Maka situasi pertempuran saat perundingan akan terus berlanjut.
Untuk situasi kontra terorisme, krisis diplomatik ini tentu akan membuat lebih sulit untuk melakukan beroperasi kerjasama kontraterorisme global, Syria dan Irak merupakan pusat dan jantung dalam memerangi kelompok tekstrimis.
Tetapi jika Syria dan Iran terus bertentangan satu sama lain dalam masalah Syria, pasti akan lebih mempolitisasi topik kontraeorisme.
Tahun lalu, Saudi Arabia menciptakan aliansi“Sunni” kontrateororisme yang mengecualikan Iran, Syria, dan Irak, Niatnya sangat jelas bisa diperkirakan. Jika kontraterorisme mencampur adukan dendam antara negara-negara utama, bisa dibayangkan situasi strategis kontrateorismenya juga akan asam. Dalam kasus ini, maka kelompok-kelompok ekstrimis yang berbasis di Syria dan Irak yang mungkin akan memperoleh manfaat utama dalam turbulensi TimTeng.
Situasi demikian tidak menguntungkan bagi kerjasama internasional untuk perang melawan teror, karena kita tahu untuk situasi seserius di Syria dan Irak dengan terorisme dan ekstrimisme seperti sekarang ini, hanya bisa dieliminir jika masyarakat internasional bekerjasama secara efektif melawan ini.
Dan kerjasama ini harus multi-lapis (multi-layers). Perlu ada kerjasama militer, politik serta penyatuan kesadaran. Perlu ada pengelompokan. Ini adalah multi-lapis. Demikian pendapat para analis.
Dalam hal memerangi kelompok ekstrimis, sulit bagi Arab Saudi dan Iran, dua negara yang memiliki kemampuan bekerjasama untuk mengirim pasukan darat di Timteng. Jadi mereka akan terus masing-masing bertempur untuk perang mereka sendiri untuk beberapa waktu.
Iran mendukung pemerintahan Bashar al-Assad, dan dapat memobilisasi kekuatan Hizbullah di Lebanon. Di Lebanon dan pusat Syria mereka memegang erat Damskus. Di jalur transportasi disepanjang garis pantai dari Damaskus ke Homs, para relawan dari Garda Revolusi dan pasukan khusus Iran mereka aktif melakukan misinya.
Ketika mereka sedang melakukan misi ini, tidak ada gesekan antara mereka dan pasukan oposisi yang didukung Arab Saudi, mereka bertempur untuk perangnya sendiri. Kedua pihak ini bisa saja mengatakan mereka berperang melawan ekstrimis, tapi dalam kenyataan, setelah pemrintah Syria kehilangan kontrol penuh atas negaranya, mereka justru berjuang untuk lingkup kekuasaannya mereka sendiri. Ini kenyataan menurut pengamat dan analis Timteng.
Ada yang bertanya, seperti apakah pemutusan hubungan antara Arab Saudi dan Iran akan berpengaruh pada perang Syria, ternyata itu tidak berpengaruh apapun, situasi tetap seperti sepanjang waktu lalu.
Dalam hal ini, Menlu Arab Saudi, Adel al-Jubeir pada 5 Januari mengatakan, ketegangan antara Arab Saudi dan Iran tidak akan mempengaruhi proses perdamaian di Syria. Arab Saudi akan terus bekerja dengan masyarakat internasional untuk resolusi damai untuk isu Syria.
Sebagai dua negara utama di Timteng, dimana masyarakat internasional telah menyerukan untuk bekerjasama untuk proses perdamaian Syria, akankah mereka bekerjasama? Ini yang banyak dipertanyakan masyarakat dunia.
AS dan Eropa berantusias mendorong pertukaran kepentingan dan pertukaran kepentingan Timteng antara Arab Saudi dan Iran dalam isu Syria dan dalam memerangi kelompok-kelompok ekstrimis. Pokok pemikiran utama dibalik ini Iran harus menghormati inti kepentingan-kepentingan bahwa Arab Saudi prihatin dengan Timteng, seperti pengaruh inti Arab Saudi di sepanjang Teluk Persia, dan Yaman di semenanjung Arab, dalam pertukaran untuk Arab Saudi menghormati pengaruh penting Iran dalam isu-isu di Irak dan Syria. Tapi ini hanya sebuah design pendapat akademis.
Apakah pemikiran diatas ini bisa dilaksanakan atau tidak, tampaknya sangat suram. Lalu apa yang harus dilakukan agar dua pemain utama regional ini dapat bertukar kepentingan mereka, atau setidaknya saling menerima satu sama lain? Para analis melihat ini akan menjadi proses yang sangat sulit.
Kekuatan utama di kawasan ini akan mulai memainkan peran yang semakin penting. Jika negara-negara besar seperti Arab Saudi dan Iran tidak mau mengambil tanggung jawab yang seharusnya, dan terus bertikai, maka Timteng akan terus berada dalam keadaan kerusuhan.
Hanya dengan kerjasama dari semua negara di Timteng, terutama negara-negara utama, yang akan bisa membantu membebaskan Timteng dari turbulensi jangka panjang, dan menciptakan kesempatan bagi perdamaian dan pertumbuhan di kawasan ini. Demikian para analis dan ahli Timteng berpendapat.
( Habis )
Sumber : Media Tulisan & TV Luar dan Dalam Negeri
http://www.theatlantic.com/international/archive/2016/01/nimr-al-nimr-saudi-arabia-shiites/422670/
https://www.rt.com/news/329349-nimr-execution-son-interview/
http://www.bbc.com/news/world-middle-east-35213244
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI