Sementara sebagian polisi mendekati persembunyian Arabel, dua polisi bergegas menolong para korban. Stella dan sang polisi yang terluka segera diangkut. Kebetulan saat itu ambulans sudah datang. Stella sendiri sudah hilang kesadaran saat dimasukkan ke mobil tersebut.
    "Cepat bawa ke rumah sakit. Kondisi gadis ini sudah kritis!" Seorang polisi berteriak pada petugas ambulans.
    Sementara tak jauh dari situ suasana tegang masih berlangsung. Sebagian polisi yang hendak menyergap Arabel kini sudah sampai di kotak pos.
    Para polisi itu masih muda - muda. Kebanyakan baru lulus dari akademi. Dengan tubuh gemetar, keenam polisi itu pun melongok ke balik kotak pos.
    "Tidak mungkin ... !" Terdengar seru kekecewaan dari mereka.
    Keenam polisi itu tak menjumpai apapun di situ. Arabel telah kabur. Entah bagaimana caranya. Dari kejauhan detektif Morgan bergegas mendekat karena mencium gelagat tak beres. Para polisi yang lain segera mengikuti komandan mereka dari belakang.
    Tak ada yang tahu Arabel bersembunyi di dalam kotak pos. Saat hampir putus asa karena kehabisan peluru, Arabel melihat pintu kotak terbuka sedikit. Sepertinya pak pos lupa menguncinya. Arabel pun segara masuk ke dalam kotak dan bersembunyi.
    Dan kemudian terjadilah hal yang menakjubkan. Atau mungkin lebih tepat dibilang menakutkan.
    Mendadak Arabel keluar dan melompat ke depan. Keenam polisi yang tadi hendak meringkusnya seketika menyongsong dengan pistol masing - masing. Namun Arabel sudah siap. Tangan kiri salah satu polisi segera ditelikungnya ke belakang, sedang tangan kanan sang polisi yang memegang pistol dibidikkan ke arah rekan - rekannya. Seketika terjadilah tembak - menembak singkat yang brutal.
    Detektif Morgan dan anak buahnya bergidik ngeri. Belum pernah mereka melihat baku tembak yang begitu frontal dan bertubi - tubi seperti itu.
    Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!