Atmosfer kehangatan dan kekaguman melingkupi Refrain Radio. Lensa kamera berkilatan, meliput detik demi detik acara berjaringan nasional ini. Sebuah program dalam rangka menyambut Pemilu tahun depan bertajuk "Memilih Itu Juara." Hasil inovasi Abi Assegaf, bekerjasama dengan beberapa stasiun radio lainnya. Acara besar ini diliput insan pers. Program acara yang disiarkan secara live itu mengajak seluruh khalayak untuk menjadikan Pemilu sebagai ajang perdamaian, bukannya perpecahan.
Sebagai inisiator, Abi Assegaf bertekad menghadiri acara itu meski dalam kondisi sakit. Ia membuka acara itu dengan sebuah lagu. Lagu yang dibawakan dengan lembut, namun penuh kekuatan motivasi. Motivasi untuk bersatu dan mencintai bangsa.
Lihatlah itu. Pria tampan Arab-Indonesia menyanyikan lagu cinta untuk Indonesia. Pianis yang mengiringinya juga tak kalah memesona: pemuda tampan berkacamata dengan wajah orientalis yang khas. Darah boleh campuran, namun rasa cinta tanah air tetaplah murni. Semurni kasih di hati mereka.
Lagu selembut itu cocok dibawakan Calvin dan Abi Assegaf. Pas dengan karakter lembut mereka. Tak heran bila audience rela bangkit untuk memberi standing applause selama beberapa menit saat lagu usai.
Adica dan Arlita berdiri paling depan. Mereka bertepuk tangan paling keras dan baru berhenti paling akhir. Syifa menatap haru ke atas panggung. Gadis dengan long dress batik berwarna biru itu bangga pada ayah dan sahabatnya. Langit pun tahu. Abi Assegaf dan Calvin sama-sama menghadapi kondisi yang tidak ringan. Perjuangan mereka melawan penyakit masih panjang.
"Aku bangga sama Abi..." Syifa maju ke atas panggung, memeluk Abi Assegaf.
"Terima kasih, Sayang."
Abi Assegaf mencium kening putrinya. Tanpa ragu, ia tunjukkan kemesraan dan kasih di depan publik. Biarlah seisi dunia tahu. Betapa cintanya Abi Assegaf pada keluarga.
Dari kursi pianonya, Calvin tersenyum penuh arti. Ia senang melihat kedekatan Abi Assegaf dan Syifa. Ternyata Syifa menangkap lirikan Calvin. Sambil tersenyum menggoda, Syifa berkata.
"Mau dipeluk juga? Minta peluk aja sana sama Silvi atau Om Effendi."
Mendengar nama Papanya disebut, perasaan Calvin tak enak. Sungguh, ia pergi dari rumah demi memenuhi permintaan Abi Assegaf bukannya tanpa intrik. Harus dilewatinya dulu tatapan kecewa Nyonya Rose dan larangan keras Tuan Effendi.