Terdorong kenangan, Calvin berjalan-jalan ke kompleks perumahan tempat tinggal Calisa pagi ini. Tentu saja tanpa sepengetahuan Silvi. Nona Minahasa turunan Turki itu bisa marah besar kalau sampai tahu.
Calvin melangkah ringan di sepanjang kompleks. Melewati taman, blok demi blok, masjid, dan lapangan basket. Rumah-rumah di sini jauh lebih kecil. Tak sebanding dengan rumah mewahnya di lereng bukit. Rerata dihuni keluarga muda kelas menengah. Sebagian besar rumah rapi dan terawat, sebagian lagi berdebu dan sudah lama tak ditempati.
Tiba di blok C, langkah Calvin memelan. Itu dia, itu rumahnya. Rumah mungil berpagar kayu dan bercat hijau toska. Pagarnya terbuka lebar. Semacam undangankah?
Mengantongi iPodnya, Calvin mendatangi rumah itu. Setangkai mawar putih yang dibawanya ia selipkan di bawah pagar. Sebuah kartu ia sisipkan juga. Biarlah Calisa menemukannya, lalu pipinya akan merona. Calvin tak pernah lupa merahnya pipi Calisa.
Sejurus kemudian, ia lanjutkan lagi langkahnya. Pertemuannya dengan penjual balon di tengah jalan menerbitkan inspirasi baru. Buru-buru dikeluarkannya kamera pocket. Dipotretnya titik tertentu pada balon-balon di tangan si pedagang.
"Yes," bisiknya excited.
"Mas, mau beli balon atau motret aja? Ganggu orang jualan," tegur si penjual balon kesal.
"Oh, maaf...saya mau beli kok. Saya mau yang itu." Calvin menunjuk balon merah berbentuk hati.
Senyum cerah merekah di wajah penjual balon. Diberikannya balon merah itu. Calvin meminjam kertas dan pulpen. Untunglah si penjual membawanya. Cepat-cepat Calvin menulis pesan di kertas, lalu mengikatkan kertas itu pada balon.
"Tulisannya rapi, Mas. Pasti Mas bukan dokter." komentar si penjual balon.
"Memang bukan. Kalau saya jadi dokter, pasiennya bukan sembuh tapi malah kena komplikasi. Ok, ini saya kembaliin pulpennya. Ini buat balon yang tadi."