"Apa Silvi tahu soal ini?"
"Ya, dia tahu. Dia salut pada keikhlasanku. Bahkan terang-terangan dia katakan kalau dia bisa mencintaiku apa adanya."
Clara makin kagum mendengarnya. Silvilah yang layak bersanding dengan Calvin. Walau Clara pun bisa menerima kondisi Calvin jika memang dirinyalah jodoh untuk blogger super tampan itu. Tak keberatan dirinya menikahi pria infertilitas.
"I'm back! Maaf lama, abisnya susah cari Alqurannya di bagasi."
Diiringi seruan antusias, Silvi berlari kecil memasuki kamar. Alquran berada dalam pelukannya. Senyumnya memudar begitu melihat Clara dan Calvin berpegangan tangan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya pelan.
"Tidak, tidak ada. Ayo kita mulai."
Buru-buru Clara melepas genggamannya. Beralih membuka Alqurannya sendiri.
Suara bass Calvin dan suara sopran Silvi berpadu dengan suara mezosopran Clara membacakan ayat-ayat indah itu. Al-Fatihah, surah terdahsyat dalam Alquran, menjadi surah pertama yang mereka bacakan. Ayat Kursi yang agung dan menggetarkan jiwa menjadi bacaan berikutnya. Al-Ikhlas, surah dengan akhiran yang indah dan arti yang dalam mereka bacakan pula. Saat membaca Al-Ikhlas, Silvi teringat tausyiah seorang ustadz berdarah campuran yang menjadi mualaf dan memperdalam Islam 16 tahun lalu. Kata ustadz itu, Islam satu-satunya agama yang mempunyai Tuhan yang absolut. Itu benar. Bukankah Tuhan dalam Islam hanya satu? Entitas yang agung, eksistensinya tak diragukan lagi, dan tunggal. Tidak terbagi-bagi dan tidak perlu perantara apa pun untuk menyembahNya.
"Say: He is Allah, the One. Allah, the eternally Besought of all."
Tanpa terduga, Calvin membacakan terjemahan surah Al-Ikhlas dalam Bahasa Inggris.