****
Ruang swadaya pembicaraan ini, bukan dari beberapa ruang yang bicara, ini adalah ungkapan pada diri sendiri, tentang melukis kata untuknya sendiri, berpacu dengan syair-syair yang sedikit agak syahdu.Â
Mungkinkah pertanyaan dirinya dijawab oleh dirinya sendiri? Sangat sempit sebagai jagad kecil, masih sangat mungkin, bahkan manusia dapat bercengkrama dengan jagad besar disekitarnya.
Siang ini panas yang begitu terik di Kota Cilacap, bukan saja aku harus "jelas" menikmati kotaku sendiri, pertanyaan yang tidak dapat bisa dijawab, "dejavu itu". Seperti pernah mengalaminya dalam mimpi, tentang menggarap sesuatu diruang tertentu, berjalan-jalan keliling Kota.Â
Yang hadir, akankah engkau dapat menyadari hidup ini? Senyuman itu, terkadang tidak harus melarikan diri untuk tahu, aku akan tetap dengan diriku yang santai menangapi semua ini.
Namun lamunan hanya tertinggal lamunan, tentang menjadi merah dibalik warna biru, pembicaraan kosong memang tidak selalu patut untuk di ikuti. Memang menjadi mengakarabkan, tetapi apakah akrab harus dengan seperti itu, berbicara tanpa tahu esensi?Â
Akrab adalah berbicara tentang apa yang sama-sama belum manusia ketahui, menjadi pertanyaan itu, sudahkan harus tidak bertanya lagi agar dimengerti?
Bercanda yang penuh dengan tawa, mungkin itulah cara manusia yang sudah lelah di dalamnya, tentang kesuntukan berbicara, dari pada melamun dengan beban, akrab di permukaan memang perlu.Â
Tidak untuk dijadikan ruang yang gelap, pada dasarnya setiap ruang bercanda adalah keakraban kecil. Aku harus mengerti akan ini, semua hanyalah bagaimana ruang yang kosong terisi dengan baik tanpa ada rasa saling curiga di dalamnya.
Bicara tentang manusia di dalam lingkungan kerja memang ketika sore hari tiba. Tetapi kembali kepada perkara rasa yang tidak perlu pada akhirnya. Sebijaksana-bijaksananya menjadi manusia adalah bebas dari konsep apa yang membelenggu dirinya sendiri "sebagai" dan "yang".Â
Aku tahu, aku memang harus melepas, perkara jiwa yang terpengaruh hukum dari energy di dalamnya, itu perkara lain, dan antara aku dan konsep, benar-benar harus lepas menjadi "swadaya pembicaraan".Â