“Neng Nisa yang tabah ya? Neng Nisa ga sendirian kok, kan ada Bibi di sini. Bibi ga akan ke mana-mana. Masalah Arya, yaudah ga apa-apa, mungkin belum jodoh. Toh, Neng Nisa kan belum pernah pacaran kan? Mungkin dengan Neng Nisa patah hati dengan setiap laki-laki yang dekat dengan Neng Nisa, itu bisa membuat Neng Nisa tahu dan mengenal bagaimana tabiat laki-laki. Neng Nisa berhak mendapatkan yang lebih baik. Bibi yakin, suatu saat nanti akan ada laki-laki baik yang menjaga dan mencintai Neng Nisa sepenuh hati. Entah itu Arya atau yang lainnya. Allah punya rahasia indah untuk hambanya”
Nisa masih terisak.
“Neng Nisa, jangan sedih lagi. Nanti bapak sama ibu di alam sana juga ikutan sedih. Neng selesaikan dulu aja skripsinya. Bibi ingin sekali melihat Neng Nisa di wisuda dan pakai toga. Tidak hanya Bibi yang ingin melihat, Ibu dan bapak di alam sana juga ingin melihat Neng Nisa wisuda dari kampusnya Neng di UI Depok. Bibi pengen lihat Neng sukses. Neng Nisa jangan sedih lagi ya?” Hibur Bi Minah sambil menyeka air mata Nisa yang meleleh.
Nisa tersenyum.
“Bi Minah, makasih yah? Nisa ga tahu dengan apa Nisa membalas semua kebaikannya Bi Minah. Nisa ga mau kehilangan Bi Minah...” ujar Nisa sambil memeluk Bi Minah.
Bi Minah tersenyum.
“Oh ya, Bi. Minggu depan, Nisa sidang kelulusan di kampus. Doakan Nisa yah” Kata Nisa dengan senyum dan belum melepaskan pelukannya.
“Iya, Bibi doakan. Sekarang udah malam. Neng Nisa istirahat ya? dingin di sini dan sedang hujan juga di luar” Ujar Bi Minah sambil mengelus kepalanya Nisa.
“Hehe, iya, Bi. Nisa mau istirahat. Nisa lagi capek banget, seharian wara-wiri di kampus. Nulisnya lanjut besok setelah subuh aja” Kata Nisa sambil melepaslan pelukannya.
***
Nisa masih belum bisa tidur. Diseruputnya susu cokelat hangat buatan Bi Minah sambil memandangi hujan lewat jendela kamarnya. Diletakkannya cangkir yang berisi susu cokelat, tak sengaja dia melihat secarik kertas berwarna ungu muda. Nisa mengambil kertas tersebut. Nisa tertegun. Ternyata kertas tersebut berisi sajak puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang dibuat dan diberikan oleh Arya seminggu silam sebelum acara tahlilan ibu dan ayahnya dimulai.