"Nggak!"
"Kang Zul teh belok, Kus. Sudah gitu mungkin yang niatnya nggak baik mah selalu ada jalannya. Dia sekongkol, atau mungkin awalnya mah diajak sekongkol sama Oom Jaya. Tapi di bagian hitung-menghitung suka bawa-bawa Mira. Mira kan sampsi sekarang masih setia sama kita-kita. Masih ingat sama rencana kita dulu. Makanya banyak yang diceritakan lagi?"
"Tapi kan kita baru tahu sekarang." kata Kusnadi tampak merasa menyesal.
Pepen lama termenung.
"Tadinya mah apa lagi Kus, nggak akan pernah diceritakan keadaan yang sebenarnya teh. Biar saja yang tahu cuma aku sama Mira. Bukan mau selingkuh, tapi supaya Kus tetap percaya ke Kang Zul."
"Apa gunanya Pen?"
"Iya akhirnya kepikiran begitu. Apa gunanya disembunyikan? Yang paling bandel, mereka seperti merasa trtap tersembunyi. Sama sekali tidak meraba perasaan kita-kita."
"Gimana Pen, yang sebenarnya teh?"
"Si Oom Jaya mau pindah ke Jakarta. Ada satu berita, katanya akan berkiprah di bidang politik yang lebih dari sekarang. Kata berita lainnya lagi ada objek usaha yang lebih besar berskala nasional. Tapi kayaknya mah, tidak mustahil kalau dua-duanya benar. Ya aktif di politik, ya pegang usaha juga. Kan yang lain juga banyak yang begitu.
Ada yang bilang , awalnya Si Oom teh pernah ribut sama Kang Zul. Katanya Kang Zul tetap mau mengokohkan koran kita agar jangan sampai putus. Tapi kayaknya kena yang vitalnya, sampai akhirnya Kang Zul kalah. Tapi nggak tahu, menang atau kalahnya mah. Cuma yang pasti PUBLIK nggak akan terbit lagi. Kita saja yang mikirin mah. Kus tahu, mau ke mana Kang Zul seterusnya?"
"Baru dengar kabar, katanya mau buka peternakan di Pangalengan."