Namun, angka pernikahan anak semakin menurun seiring naiknya kuintil atau tingkat kesejahteraan. Pada kuintil pengeluaran kelima atau tingkat kesejahteraan tertinggi, hanya sebanyak 11,14% keluarga yang melakukan pernikahan anak perempuan (Susenas, 2018).Â
Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan berkorelasi positif dengan pernikahan anak. Semakin miskin suatu keluarga, semakin tinggi kemungkinan melakukannya pernikahan anak.Â
Dengan tujuan dapat mengurangi beban ekonomi, keluarga yang memiliki kondisi ekonomi lebih rendah mendominasi pernikahan anak. Faktanya, perempuan yang menikah di bawah umur cenderung mengalami kemakmuran yang lebih buruk di masa depan.Â
Tingkat kemiskinan perempuan yang menikah di bawah 18 tahun lebih tinggi sebesar 13,76% dibandingkan perempuan yang menikah diatas 18 tahun sebesar 10,09% (Susenas, 2018).Â
Ditinjau dari tingkat pengeluaran untuk barang pokok(makanan), tingkat pengeluaran perempuan yang menikah di bawah 18 tahun lebih banyak sebesar 58,92% daripada yang menikah diatas 18 tahun yaitu 52,85% (Susenas, 2018).Â
Tingginya pengeluaran untuk makanan sejalan dengan tingkat kerentanan keluarga. Ketika terjadi shock dalam perekonomian, keluarga yang memiliki proporsi pengeluaran yang lebih tinggi terhadap makanan akan lebih besar terkena dampaknya. Sehingga, perempuan yang menikah di atas umur 18 tahun dianggap lebih sejahtera dan  stabil secara finansial.
Pernikahan Anak dan Kondisi Tenaga Kerja
"Child marriage is child labor" kalimat yang cukup sering digunakan oleh beberapa organisasi internasional. Pernikahan anak dapat memengaruhi partisipasi angkatan kerja khususnya perempuan karena perempuan yang menikah dibawah umur bisa saja tetap bekerja, baik secara formal atau informal.Â
Berdasarkan data Employment to Population Ratio (EPR) yang diolah PUSKAPA, perempuan yang sudah menikah memiliki angka EPR paling kecil dibandingkan belum menikah atau sudah bercerai, yaitu sebesar 32,46%. Maknanya, proporsi perempuan yang sudah menikah lebih sedikit di dalam pasar tenaga kerja.Â
Terlebih lagi, Â perempuan yang menikah di bawah 18 tahun cenderung bekerja di sektor informal dengan proporsi 63,31% dari keseluruhan (Susenas, 2018). Pekerjaan ini sering kali dicirikan dengan pekerjaan yang inferior dan berupah rendah.Â