Sedangkan di negara maju, upah buruh relatif lebih tinggi, terdapat tunjangan lainnya bagi pekerja, serta terdapat peraturan ketat yang melindungi para buruh pabrik di negara maju.
Sejak awal, industri pakaian selalu bersifat padat karya dan memiliki hambatan masuk ke pasar yang rendah (Linden, 2016). Diperkirakan 1 dari 6 orang di dunia bekerja di industri fesyen menjadikannya salah satu industri paling padat karya di dunia (Ross&Morgan, 2015). Terlepas dari eksistensinya yang membuka lapangan pekerjaan bagi para buruh pabrik garmen, namun bukan berarti kesejahteraan akan serta merta mereka dapatkan.
Eksploitasi pekerja yang tinggi menyebabkan rendahnya kesejahteraan yang didapatkan oleh buruh pabrik garmen. Lebih buruknya, pekerja pabrik garmen ini didominasi oleh wanita dan anak-anak dibawah umur.
Pabrik harus memotong biaya produksi dan memastikan bisa menjual pakaian kepada retailer dengan harga murah atau mereka harus shutdown karena tidak ada yang mau menggunakan jasa pabrik mereka.
Akibatnya, pihak manajemen pabrik seringkali mengabaikan keselamatan kerja buruh demi mengurangi biaya produksi dan tetap berlangsungnya kegiatan produksi tidak peduli apapun kondisinya. Kondisi pabrik yang panas dan dipenuhi bahan kimia dari bahan baku pakaian bisa membahayakan keselamatan pekerja. Rata-rata 5,6 per 100 pekerja mengalami cedera tiap tahunnya.
Runtuhnya bangunan pabrik Rana Plaza di Dhaka, Bangladesh menewaskan 1.138 buruh pabrik pada tahun 2013 menjadikannya tragedi terburuk dalam sejarah dunia tekstil.
Keruntuhan ini disebabkan pemilik pabrik yang mengabaikan perintah untuk mengungsi saat sudah terdapat banyak keretakan pada konstruksi bangunan pabrik. Berbagai kejadian ini menjadi contoh kelayakan tempat kerja yang dikorbankan demi mencapai target produksi dan menekan harga tetap murah.
Bahaya bagi Lingkungan dan Kesehatan
Tidak hanya mengeksploitasi pekerja, tren fast fashion juga mengakibatkan kerusakan lingkungan. Perubahan tren yang berganti dengan cepat mengakibatkan kenaikan kuantitas pada produksi pakaian yang berpotensi pada peningkatan jumlah limbah pakaian.
Menurut data dari Textile World pada tahun 2015, bahan polyester menjadi salah satu bahan favorit dalam pembuatan produk fast fashion dan terus meningkat penggunaannya seiring berjalannya waktu.
Bahan polyester merupakan bahan kain dari serat sintetis (microfiber) yang didapatkan secara kimiawi. Bahan ini lebih ekonomis dibanding bahan kain dari serat alami (kapas), namun karena dibuat secara kimiawi dapat menimbulkan iritasi bagi pengguna yang tidak cocok dengan bahan kimiawi didalamnya. Bahan microfiber sulit didaur ulang sehingga menghasilkan sampah microfiber sebesar 50 miliar plastik per tahun.