Mungkin karena keluarga dalam konsep timur begitu luas bukan saja keluarga batih (ayah, ibu, anak), tetapi juga paman, bibi dan lain-lain, apalagi orang Indonesia itu dari daerah yang punya sistem marga.
Saya sendiri menerima hubungan antar bangsa sebagai suatu keniscayaan, asalkan hubungan itu karena kesetaraan, saling jaruh cinta karena satu sekolah, satu pandangan atau visi hidup, bukan karena pengakuan di bawah sadar terhadap "superioritas ras", yang lebih banyak karena pencitraan daripada kenyataan. Â
Versi Sinetron
Dalam versi sinetron Corry (Wendy Wilson) dan Hanafi (Dimas Aditya) sudah saling kenal di Solok. Â Mereka kawan satu sekolah. Ayah Corry dari Eropa (Pierre Gruno) beribu orang Minang menentang hubungan mereka. Â
Itu mengingat pengalaman pahit Sang Ayah, Â pernikahan tidak direstui keluarga Sang Ibu. Â Sehingga ketika ibu Corry meninggal, tidak ada yang menziarahi. Sang ibu seperti dibuang dari keluarga.
Masih masuk akal. Tetapi juga menimbulkan tanda tanya, masa anaknya juga dimusuhi oleh keluarga besar ibu. Â Solok itu kotanya seberapa besar ya? Corry versi millenial punya nasionalisme sebagai Orang Minang (Orang Indonesia). Â Dia menentang ajakan ayahnya melanjutkan sekolah ke Eropa.
"Siapa yang akan menziarahi makam ibu?" cetus Corry.
Dari pihak Hanafi masih seperti pakemnya. Ayah Hanafi meninggal sebagai abdi negara menyelamatkan daerah itu dari bahaya banjir. Â Hanafi dibiayai ibunya yang kerja menjahit. Hanya saja Hanafi diceritakan pandai Bahasa Inggris karena bantuan Corry.Â
Sekolah di HBS, diganti beasiswa ke Amerika Serikat. Biaya awalnya tetap ditanggung mamaknya (Piet Pagau)seperti dalam ceritanya. Imbalannya Hanafi dijodohkan dengan Rapiah (Dinda Surbakti) anak Mamaknya, Angku panggilan dalam budaya Minang.Â
Catatan lain tentang tokoh Hanafi dalam "Salah Asuhan" mencerminkan etos Minang pergi ke merantau. Bagi budaya Minang orag disebut laki-laki itu jika tinggal di surau ketika sudah akil balik dan pergi merantau ketika dewasa.
Setting pada 2007, Hanafi jadi ke Boston, Amerika Serikat. Gagap budaya, kebingungan mencari arah kibat, hingga makanan halal. Â Untuk berhubungan dengan keluarganya, ia berkirim surat. Â Loh, zaman itu sudah ada internet, mengapa tidak pakai imel?Â