Menurut Wahyu, bisnis kuliner itu tidak ada matinya.
"Cuma ini pesan saya, kalau usaha sudah berkembang dan membesar, carilah orang-orang profesional untuk membantu Anda. Jangan Anda tangani sendiri karena kekuatan Anda terbatas," kata dia, mengingatkan pengalamannya sendiri yang pernah gagal .
Wahyu Saidi adalah salah satu contoh pebisnis tangguh. Meskipun beliau sudah ratusan kali bangkrut, tetapi beliau tidak tidak pernah merasa putus asa. Beliau terus bersemangat menularkan virus wirausaha kepada anak-anak muda. Dua belas restoran yang sekarang tersisa, menurut beliau adalah hasil ‘’kelulusannya’’ belajar dari 398 kali kegagalan. Bangkrut memang menyakitkan, tetapi itu lebih baik daripada  tidak punya pengalaman dalam berbisnis. Di balik pengalamannya mengalai kebangkrutan, tersimpan ilmu yang mahal luar biasa dan bisa dijadikan pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin sukses berwirausaha.
Sukses Berkat Kerja Keras
Pada awal memulai usaha sebagai tukang bakmi, pagi hari pukul 05.00 WIB Wahyu Saidi sudah berada di Pasar Pulo gadung, agar tidak kehabisan ayam betina afkir atau untuk mendapat caisim (sawi hijau) yang masih segar. Sekitar pukul 06.00 WIB beliau berdesakan dengan belanjaan di atas bajaj, padahal pada saat itu beliau sudah memiliki mobil sedang, tetapi mobil tersebut tidak cocok untuk membawa barang belanjaan.
Sekitar pukul 07.00 WIB beliau mandi, memakai pakaian kaos dan sepatu sandal. Kemudian sarapan pagi dan menyapa anak yang akan berangkat sekolah. Sedangkan siang harinya beliau benar-benar sedang menjadi tukang bakmi sejati,. Pekerjaan memotong sayur, mengelap meja, mencuci piring dan sebagainya benar-beanr dilakukannya sendiri dan menjadi aktifitas hariannya.
Sore sampai menjelang Magrib kegiatan Wahyu Saidi mulai sedikit lenggang. Kadang beliau memaksakan diri untuk pulang ke rumah sebentar. Sesudah Magrib kegiatan memuncak lagi, sampai rumah makan tutup sekitar pukul 22.00 WIB. Masih ada kegiatan beres-beres perlengkapan restoran dan mengevaluasi hasil kerja hari tersebut. Tiba di rumah dengan badan yang penuh lelah sekitar pukul 23.00 malam.
Begitulah aktifitas rutin yang dilakukan Wahyu Saidi selama merintis usaha bakmi. Tidak heran berkat kerja kerasnya tersebut beliau mendulang sukses. Dari kisah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kesuksesan itu tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi melalui sebuah proses perjuangan yang cukup panjang, konsisiten dan tanpa mengenal lelah.
Menurut Wahyu Saidi, apapun profesi seseorang sebelumnya, jika serius mau berubah menjadi seorang pengusaha pasti bisa, asal mau melakukan perubahan dalam dirinya. Perubahan adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Ketakutan meninggalkan pekerjaan lama yang nyaman kadang justru membuat kita tidak ingin berubah. Daerah yang nyaman, secara definitif adalah wilayah yang sudah biasa kita jalani, yang senang kita lakukan, ada kepastian, bebas resiko, aman, mudah, tenteram, dan nyaman. Sedangkan wilayah tujuan perubahan adalah wilayah tantangan, di mana ada ketidakpastian, kecemasan, kesulitan dan perlu keberanian untuk menapakinya.
Pribadi yang Ramah dan Mudah Dihubungi
Wahyu saidi memiliki pribadi yang hangat, mudah berbaul dengan siapa saja. Sangat jarang orang sukses yang mudah dihubungi, kecuali beliau sedang rapat. Sesibuk apapun pekerjaannya, beliau akan berusaha mengangkat panggilan telepon yang ada dalam genggamannya. Kalaupun tidak sempat karena terhalang rapat, beliau pasti akan menelepon balik atau membalasnya dengan pesan singkat via sms.