Sebegitu kakunya. Tapi, untungnya saat bersama secara pribadi. Mas Teguh orangnya lembut dan pengertian. Dia selalu mengutamakan istri dan tidak egois. Meski, ya itu kata-katanya singkat-singkat. Aku anggap, itu karena dia dulunya lulusan sains. Jadi, tidak suka bertele-tele. Berpikir epektif dan praktis saja.
Tapi, inti dari pembicaraan itu mengena.
Berbanding terbalik memang dengan sifatku yang banyak omong. Kalau berbicara harus jelas, ada SPOK-nya. Satu kalimat saja, kurang verba atau tidak ada nomina. Bahkan kurang jelas tanda bacanya. Maka, aku akan memberinya kuliah tentang tata bahasa berjam-jam lamanya.
Namun, itulah kekuatan jodoh. Meski aku dan Mas Teguh sangat berbeda. Bak bumi dan langit. Tapi, survey membuktikan. Hubungan rumah tangga kami awet dan bahagia. Sebelum aku tahu sebuah rahasia besar itu tentunya.
**
Suatu hari, saat scroll media sosial, aku melihat postingan seorang wanita bernama Anggraini. Dalam postingan tersebut ada latar belakang dua tangan yang saling bertaut, dengan suasana pantai yang hangat.
Tertulis caption, “Makasih sayang …” sudah itu saja. Tidak ada yang luar biasa. Tapi, yang membuat hatiku berdesir untuk kedua kalinya adalah tangan yang berbulu itu, dengan jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Aku tidak asing dengan tangan itu. Tangannya Mas Teguh.
Ya, Tuhan. Batinku kembali merasa sakit. Mengapa kau memberikan potongan puzzle dalam kehidupan rumah tangga ini. Aku tidak suka bermain tebak-tebakan.
Potongan pertama sudah kutemukan, kini potongan kedua. Apakah ada potongan-potongan lain lagi yang harus kubuka. Siapakah Anggraini itu? Saat kususuri semua akun media sosial nama tersebut. Tidak banyak data yang dapat kuperoleh. Selain satu poto dengan caption tersebut. Tidak ada informasi penting yang bisa kujadikan sebuah pegangan untuk mengokohkan rasa curigaku.
Namun, dua hal itu tak urung membuat hidupku menjadi tidak seperti dulu lagi. Aku mulai dihantui perasaan tidak aman, khawatir ditinggalkan, sakit karena dibohongi, dan perasaan-perasaan lainnya yang berkelindan dengan imajinasiku yang terus saja berkeriap ke segala arah. Akhirnya, aku memutuskan untuk membuntuti Mas Teguh.
***