Terlihat dari wajah ibu yang penuh harap agar aku bisa masuk di salah satu BUMN terbesar yang ada di negeri ini. Tahap demi tahap telah kulalui dalam tes ini dengan sukses. Tak pernah terbayang olehku bisa sampai dalam tahap akhir tes ini. Aku mampu bersaing dengan bejibun peserta tes yang mencapai angka tak kurang dari 6000 orang. Keyakinan timbul dalam dada bahwa aku bisa melewati tes terakhir ini.
Kukayuh sepeda dengan semangat 45. Sampai di warnet segera kubuka website yang sudah kuhafal diluar kepala. Kupandangi satu persatu nama peserta yang ada. Namun sunguh tak kusangka namaku tidak ada disana. Kucoba sekali lagi membaca dengan lebih teliti berharap dari deretan nama tersebut terselip namaku. Hasilnya tetap saja namaku tidak terpampang dalam pengumuman tersebut.
Aku kembali menuju rumah dengan perasaan yang kacau dan kecewa. Saat sampai, kucoba menguatkan diri dan tetap terlihat tidak terjadi apa-apa. Aku takut membuat ibu kecewa dengan hasil ini.
“Bagaimana Nak hasilnya?” tanya ibu dari musholah rumah yang tengah bersiap untuk sholat asar.
“Masih belum rejekinya, Bu.”
“Sabar ya Nak, nanti pasti ada yang lebih baik,” suara ibu terdengar semakin mendekat ditelingaku.
“Ibu, Ngga tega, Nak, lihat perjuanganmu tes berkali-kali, Berpindah dari lokasi tes satu ke lokasi tes yang lain,” lanjut ibu.
Kulihat wajah ibu yang masih terbalut mukena putih. Tetesan air mata ibu telah jatuh dan membasahi pipi. Ibu memeluk dan mengelus lembut rambutku layaknya aku bocah SD walaupun nyatanya aku telah lulus SMA. Aku tak rela melihat ibu menangis di depanku karena kegegalan tersebut. Hatiku serasa tergores sembilu hingga kurasakan sangat pedih.
Ibu...
Kegagalanku dalam tes tersebut telah berlalu. Teman-teman yang beruntung bisa melanjutkan kuliah. Aku tak mampu meminta ibu untuk membiayaiku kuliah. Aku masih punya adik yang masih butuh biaya untuk meneruskan sekolah ke SMA. Aku memutuskan untuk mencari kerja sambil menunggu pendaftaran kuliah tahun depan. Tentunya dengan mencari beasiswa.
Tak lama berselang aku masuk di perusahaan tekstil yang ada di kotaku. Di perusahan tersebut ada 3 shift dan rotasi setiap 2 hari sekali. Jadi setiap minggu aku kebagian shift malam. Disini kurasakan kembali bagaimana besarnya kasih sayang ibu kepadaku. Masih teringat olehku akan perkataan ibu waktu itu “Ibu ngga tega Nak, lihat kamu kerja malam seperti ini, disaat orang tidur nyenyak, kamu harus kerja dan ngga tidur”