Namun, harus dipertegas bahwa hadiah itu bukan belis. Akan tetapi prinsip kesantunannya tetap saja mengikuti hukum adat yang berlaku di sana.
Praktisnya bahwa ada yang hanya bisa memberikan hadiah pernikahan sarung laki-laki, tetapi juga ada yang hanya bisa memberikan hadiah baju perempuan dan sarung perempuan.
Misalnya kalau saya sebagai pihak saudara datang ke pihak saudari, maka saya membawa baju perempuan atau sarung perempuan. Demikian juga ke pihak yang menikah itu sebagai saudara, maka saya bisa saja memberikan hadiah berupa uang.
Sedangkan bagi mereka yang tidak punya hubungan kekeluargaan, mereka bisa memberikan hadiah apa saja sesuai kemampuan mereka.
Meskipun kebebasan itu diberikan, umumnya untuk orang dewasa di Flores mereka selalu membawa lembaran entah sarung laki-laki atau sarung perempuan, baju, dan hadiah lainnya seperti piring gelas dan perlengkapan dapur.
Hadiah yang unik biasanya datang dari teman sebaya. Bagi teman sebaya, mereka sudah tahu persis apa yang paling dibutuhkan oleh teman yang menikah.Â
Pada umumnya hadiah perlengkapan dapur itu selalu menjadi pilihan. Konsep dasar mereka sederhana, setelah selesai pernikahan, keduanya harus terpisah dari orangtua mereka untuk membangun hidup baru dalam rumah tangga mereka.
Hidup baru sebagai keluarga itu tentu membutuhkan persiapan mulai dari dapur kehidupan rumah tangga. Nah, pola pikir seperti itu masih ditemukan pada tahun 1990-an.
Belakangan ini, terasa sekali bahwa hadiah pernikahan juga ikut pengaruh modernisasi. Bahkan bisa juga dikatakan sedang berada di jantung krisis peradaban.
Mengapa saya mengatakan demikian? Liburan tahun lalu memberikan saya pengalaman istimewa. Saya menghadiri beberapa pesta pernikahan di kampung.