2 Januari 2006. Jam di kantor di bilangan Pisangan Lama, Jakarta Timur, menunjukkan pukul 13.30.
“Papa, cepat pulang. Ada tuyul di rumah.” Itu suara anak saya melalui telepon, perempuan, ketika itu di kelas 3 SMP.
Apa? Tuyul?
Saya meminta Pak Haji, tetangga di bilangan RW10 Kel Pisangan Timur, Jakarta Timur, untuk melihat anak saya di rumah.
“Ya, Bapak cepat pulang.” Ini suara Oneng, pembantu di rumah yang juga ikut menelepon saya.
Lima menit kemudian saya telepon Pak Haji. “Tidak ada apa-apa, Pak,” kata Pak Hanya.
Saya pun lega dan melanjutkan pekerjaan.
“Aduh, Papa pulang. Sekarang.” Anak saya menelepon lagi.
Saya pun bergegas ke rumah.
Anak saya dan dua pembantu, Oneng dan Minah (dua-duanya dari Kab Pandeglang, Banten), sudah menangis di depan rumah.
Sebagian tetangga dan orang-orang lewat mencibir dan mengejek karena mereka tidak percaya ada tuyul, apalagi di siang hari bolong.