Vania melangkah memasuki kamarnya dan Kailash dengan membawa secangkir teh dan sepiring pisang coklat kesukaan suaminya itu. Netranya menelusuri seluruh isi kamar, mecari keberadaan Kailash.
Melihat ke arah balkon, disana Vania melihat siluet seseorang yang sedang mengetik sesuatu di atas laptopnya. Vania dapat menebak, bahwa Kailash ada disana.
Kaki Vania mendekat ke arah balkon. Terlihat disana Kailash sedang sibuk dengan setumpuk berkas disampingnya. Beberapa kancing kemeja lelaki itu terbuka, jas yang tadi dikenakan entah sudah ada dimana. Dengan langkah anggun, Vania mendekati lelakinya.
"Yah, ini tehnya," ujar Vania sembari meletakkan teh itu dimeja. Wanita itupun ikut duduk disamping Sang Suami.
Kailash menghentikan kegiatan mengetiknya dan menolehkan kepalanya ke arah Vania.
"Apa barusan kamu menemui Agnesh, Vania?" Kailash menyesap teh yang masih hangat itu dan kembali meletakkannya dimeja,
Vania menggeleng. "Enggak Yah," sahutnya.
"Bagus, anak sialan itu memang harus diberi pelajaran sekali-kali."
Beberapa saat diantara mereka hanya ada keheningan. Hingga akhirnya Vania membuka suara. "Yah," panggilnya.
Kailash menoleh. "Apa?"
Vania nampak menimang-nimang, apakah dia harus mengatakan hal ini atau tidak. Tapi, wanita itu sudah memendamnya cukup lama, dan sekarang lah saat yang pas untuk mengatakan itu. "Mau sampai kapan kamu memperlakukan Agnesh seperti itu, Yah?"