Mereka sejenak diam. Melihat sorot matanya, pikirannya sedang bergerak kesana kemari.
“Diamnya bagaimana?” tanya salah satu.
“Ya diam.”
“Apa tidak kamu perhatikan raut wajahnya. Diam bisa jadi bisu. Tapi bisa juga marah. Bisa juga menahan lapar.”
“Sebentar. Sebentar. Dia memang diam tapi tadi alisnya bergerak-gerak.”
“Alis? Berapa nomor alis?”
“Kalau soal alis bergerak, jangan dianggap. Alis Marsini memang...”
Tafsir menafsir itu mendadak pecah, ketika Marsini berhenti di luar pagar rumahku. Dia mendoakan aku dengan sedikit berteriak. “Semoga sampean menjadi orang kaya.”
***
Sore sehabis maghrib, di depan rumahku ramai orang. Mereka para penjudi togel yang sudah mendarah daging. Mereka tampak bergembira sambil kerap mengucap angka lima puluh. Lima puluh?
“Kang Roso , betul betul jitu.”