Rein memandangi orang orang yang menonton dengan kehebohannya masing masing. Jimmy terlihat antusias, ia ikut berjingkrakan. Rein menatap Jed yang berada di atas sana, pemuda itu terlihat agak canggung.  Rein mendesah, perasaannya tiba-tiba menjadi tak keruan. Rein memikirkan apa yang akan Shia perbuat kepadanya bila ia mengetahui dirinya ada di sini bersama orang-orang yang tidak disukainya apalagi bersama Jed.  Rein merasa perutnya mendadak mual.  Ia meninggalkan tempat dimana ia berdiri dengan canggung.  Kini ia bersandar di tembok gedung olahraga  yang dingin itu. Suara detuman drum terdengar membahana. Hari ini adalah hari yang melelahkan tapi ia sama sekali tidak merasa lelah, hanya saja perasaannya yang sedikit tidak menentu.
Shia pasti akan tahu apa yang ia lakukan hari ini. Ia punya mata dan telinga di mana mana. Â Shia pasti akan marah besar. Ini malam minggu, dan Rein tidak meninggalkan pesan apapun kepadanya.
"Rein." Tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya, Rein tersenyum.
"Anak anak lagi on stage tuh." Rein mulai mengenali wajah yang keluar dari keremangan malam.
"Kamu gak nonton?" Dandy menyandarkan punggungnya di tembok.
"Baru aja, agak gerah di sana."
Dandy mengangguk angguk. "Rein, sorry ya."
"Buat apa?"
"Buat semua tuduhanku tadi."
"Ah gak usah di bahas lagi, yang penting sekarang kamu ada disini, mau naik kan?"
Dandy mengangguk.