Mohon tunggu...
Ika Septi
Ika Septi Mohon Tunggu... Lainnya - Lainnya

Penyuka musik, buku, kuliner, dan film.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Terlalu Tua

21 Juli 2016   15:58 Diperbarui: 25 Februari 2023   15:01 217
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Arai mendelik.

"Ya gak gitu. Pada intinya musik seperti itu sudah tidak sesuai dengan usia dan keadaan ku sekarang ini."

"Ooh gitu, jadi selama ini kamu mendengarkan apa? Atau sama sekali tak mendengarkan apa-apa?”

"Ya, musik-musik ringan lah. Sesuai dengan situasi dan kondisi."

"Misalnya?"

"Misalnya dangdut. Mencintai produk negeri sendiri itu kan lebih bagus."

"Hmm, dangdut dengan beragam goyangnya ya. Goyang itik, goyang gergaji, dan goyang apa tuh yang lagi happening, ah ya goyang dribble?" Shira manggut-manggut.

Arai menyeringai.

"Rai, kamu itu keren loh, sudah seperti nahkoda kapal jempolan, bisa putar haluan secara ekstrim." senyum tipis menghiasi bibir Shira.

20 tahun lalu, Arai masih berteriak-teriak garang di depan corong mikroponnya, mencabik-cabik senar gitarnya dengan penuh perasaan, menekan pedal ampli untuk mendapatkan sound yang ia inginkan, dan mengibas-ngibaskan rambut gondrongnya dengan penuh semangat. 

Namun waktu dan keadaan telah melunturkan segalanya. Ternyata berubah itu bukan monopoli Ksatria Baja Hitam semata. Arai pun bisa berubah, ia bukan lah Arai yang dulu dan Shira maklum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun