Mohon tunggu...
Herry Mardianto
Herry Mardianto Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Suka berpetualang di dunia penulisan

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Mari Berkawan dengan Pepohonan

15 Juni 2024   20:03 Diperbarui: 17 Juni 2024   16:45 767
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pohon Kapas di Nguling-Probolinggo | Foto dari buku  The Poetry of Nature

Sesaji diletakan  di cerukan batang bagian bawah. Terdapat warna hitam bekas sisa-sisa pembakaran kemenyan---menandakan bahwa tradisi meletakan sesajen sudah berlangsung lama. Hanya saja tradisi sesajen itu kian kesini kian berkurang dan menghilang karena jalan yang semula sepi, menjadi ramai (dengan hadirnya perumahan). Kemungkinan lainnya, pelaku sesajen sudah tidak ada lagi (terjadinya pergeseran masyarakat tradisi agraris ke masyarakat moderen). 

Meskipun begitu, setelah dua puluh tahun berlalu, pohon randu alas tetap meninggalkan masalah. Ketika seorang kerabat ingin mendirikan bangunan rumah tepat di belakang pohon randu alas dan ingin menebang pohon itu, para tetua menceritakan bahwa pohon itu wingit. Kalau ingin menebang, sebaiknya menjalani laku tertentu dan mengadakan acara selamatan. 

Sampai hari ini pohon randu alas masih berdiri kokoh meskipun di belakangnya sudah berdiri bangunan rumah berukuran  luas  bergaya minimalis.

Saat ini, pohon-pohon pusaka  jarang dikenali dengan baik oleh masyarakat, terlebih generasi muda. Dalam konteks ini perlu adanya upaya instansi terkait merawat dan memperkenalkan kembali tanaman-tanaman langka, dihubungkan dengan sejarah, budaya, dan tata kehidupan masyarakat.

Buku tulisan penyair Iman Budhi Santosa, Suta Naya Dhadhap Waru (Interlude, 2017) setidaknya memberi kesadaran kepada kita mengenai kenyataan dekatnya hubungan wong cilik dengan tumbuhan.

"Bersama tumbuhan, mereka   membangun semacam hutan lindung yang nyaman dan aman buat menemukan identitas dan kemandirian di tengah hiruk-pikuk zaman dan perebutan kekuasaan tak henti-hentinya. Di balik kesunyian alam pedesaan dan sikap diam tumbuhan itulah mereka bersembunyi sekaligus mengukuhkan jati dirinya sebagai petani serta menempatkan tumbuhan sebagai perisai dan sedulur sinarawedi," tulis Iman dalam kata pengantar.

Jadi jangan heran jika dalam hidup wong cilik terus diwarnai usaha untuk jujur dan narima ing pandum meniru kodrat tumbuhan. Senantiasa mengalah, walau sesungguhnya tak pernah terkalahkan oleh siapa pun. 

Mereka tetap di tempatnya, berpijak pada tanah dengan sepasang kaki meneladani tumbuhan yang terus menjulurkan akar serta titik tumbuhnya walau tombak peluru bagaikan hujan merajam batang serta dahannya sepanjang hari.

Di bagian lain dituliskan bahwa manusia Jawa di pedalaman benar-benar manusia tumbuhan; manusia agraris. Sebagai wujud rasa terima kasih pada tumbuhan yang telah menemani lara-lapa wong cilik menjalani laku-prihatin sepanjang hayat,  mereka lalu memuliakan berbagai nama tumbuhan menjadi identitas nama desa kampung halaman yang dicintainya. Misalnya saja Bungur, Dieng, Gambir, Gondang, Jombang, Kedu, Kendal, Semanggi, Ploso, Saradan, Tangkil, dan Walikukun.

Pohon Bungur (lagerstroemia speciosa), di Jawa dikenal juga  sebagai pohon ketangi, menjadi nama desa  di Karangrejo (Tulungagung) dan Sukomoro (Nganjuk).

Walikukun yang lebih kita kenal  sebagai nama stasiun kereta api dan wilayah di kecamatan Widodaren, Ngawi, Jawa Timur; ternyata berasal dari nama pohon yang dalam kepercayaan masyarakat Jawa  dapat melindungi rumah dari gangguan makhluk halus dengan cara ditanam maju-pat (di empat sudut pekarangan).

Menyebut krasak, maka yang langsung teringat adalah nama sungai (kali) Krasak yang kerap menerima muntahan lahar dingin dari gunung Merapi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun