Contoh kelima, Alvin (bukan nama sebenarnya), salah seorang teman yang berprofesi sebagai guru ASN di salah satu SMK Negeri terkemuka di Samarinda.
Sebagai guru di salah satu SMK favorit, harapan (mungkin tepatnya anggapan) masyarakat adalah para guru di SMK tersebut mempunyai kemampuan yang mumpuni, baik dari segi teknik metode mengajar, penguasaan teknologi, dan lain sebagainya.
Faktanya? Teman saya ini membeberkan bahwa hanya segelintir guru di SMK-nya yang memang cetar membahana dalam segi kompetensi diri.
"Saya saja tidak menguasai komputer sampai mendalam. Saya hanya menggunakan media ajar dari unduhan internet. Saya tidak bisa buat sendiri media pembelajaran di PowerPoint," kata Alvin lugas.
Saya cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar perkataan Alvin.
Mengapa ada beberapa guru yang tidak suka sekolah?
Menurut saya, lima guru yang saya kenal sebelumnya mempunyai ketidaksukaan akan sekolah.
Analisis saya tentang alasan-alasan mereka:
1. Stigma "membaca dan menulis" sebagai kewajiban yang membosankan
Kalau kebencian akan membaca dan (khususnya) menulis menerpa profesi lain di luar guru, mungkin bisa dimaklumi. Anehnya, justru dari sekian banyak guru yang saya kenal, kebanyakan dari mereka tidak suka membaca dan menulis.
Terlihat sangat "umum" dalam kehidupan sehari-hari. Mayoritas dari mereka umumnya suka bergerombol di kantin sekolah atau warung terdekat. Bisa juga berkumpul bareng di ruang guru sambil menikmati gorengan dan merumpi.
Membaca dan menulis?
Jauh dari angan-angan dan kenyataan.