Sejak awal, pemberian lapak jualan kepada PKL Delitua secara GRATIS merupakan strategi "tipu daya" untuk mengusir pedagang kaki lima dengan tidak menimbulkan perlawanan. Entah siapa yang "mendisain" namun strategi ini berjalan dengan baik dan cukup berhasil.
Namun perlu dipahami, persoalan tidaklah selesai, strategi ini akan menuai banyak persoalan baru. Korban strategi ini bukanlah kawanan gajah yang mengganggu lahan petani, bukan pula kumpulan geng motor yang membegal pengendara motor atau merampok toko-toko.
PKL adalah pedagang yang menyediakan kebutuhan orang-orang disekitarnya, sebagian besar menjual hasil lahannya, sebagian lagi mengepul dari pelosok-pelosok, untuk disediakan bagi penduduk kota Delitua maupun kota-kota di sekitarnya, agar orang-orang di kota itu tidak perlu bercocok tanam dalam memenuhi kebutuhannya. Semua itu dilakukan para PKL demi memenuhi kebutuhan hidupnya serta keluarganya. Mereka layak dihargai.
Pedagang Kaki Lima (PKL) pasar Delitua sejak awal memang dimaksudkan untuk diusir bukan direlokasi. Strategi pengusiran yang diterapkan oleh Pemda Deli Serdang terhadap PKL di pasar Delitua, memang berhasil menghindari aksi perlawanan dari para PKL, dan strategi ini layak diacungi jempol (jempol kaki biar besar), namun sebagai bangsa yang bermoral, strategi ini sangat tidak layak untuk ditiru.
PERSOALAN BARU
Beberapa persoalan baru yang timbul akibat dari "strategi pengusiran" ini, diantaranya :
1. Para PKL yang meninggalkan Pasar Lantai 2 memenuhi lorong pintu masuk yang paling strategis, sehingga mempersempit jalan masuk bagi pengunjung. Sebagian lagi berjualan di depan ruko-ruko yang belum buka. Hal ini menambah beban psikologis para petugas pasar, karena harus melakukan pengusiran setiap pagi.
[caption id="attachment_360555" align="aligncenter" width="300" caption="PKL dari Lantai 2 Pasar Delitua menempati lorong pintu pasar."]
[caption id="attachment_360556" align="aligncenter" width="300" caption="PKL dari lantai 2 Pasar Delitua menempati teras ruko."]
2. Bila lantai 2 memang akan dibuat pasar, maka idealnya lantai 1 dan lantai 2 harus diatur sedemikian rupa agar kedua pasar tersebut menyediakan jenis barang yang berbeda. Tapi hal ini akan menimbulkan ketidaksenangan para pemilik kios terhadap para PKL.
3. Bila lantai 2 tetap dilanjutkan sebagai pasar, fasilitas saluran air, kran air dan beberapa fasilitas lain sebagaimana layaknya sebuah pasar, harus dibangun kembali.