Mohon tunggu...
Budiman Gandewa
Budiman Gandewa Mohon Tunggu... Wiraswasta - Silent Reader

Bermukim di Pulau Dewata dan jauh dari anak Mertua. Hiks.....

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

(RTC) Cerpen| Preman Insyaf

25 November 2017   17:36 Diperbarui: 25 November 2017   18:01 1818
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pic. smartdetoxpusat.wordpres.com

'Cinta Bangor Bukan Buatan. Bagaikan Paku nancep di papan'

Hihihi.....

Karena itu, setelah mengingat, menimbang, sampai akhirnya  memutuskan. Bangor pun memberanikan diri untuk menyatakan cintanya  kepada Hindun dan malam minggu ini adalah momen yang pas untuk itu.

Seperti biasa sepulang dari masjid, Bangor sudah terlihat  berdua di teras rumahnya Pak Haji. Bercanda dan bernyanyi seperti yang  sudah-sudah. Tembang-tembang cinta meluncur dari bibirnya Bangor. Pemuda  itu telah berubah sekarang. Hindun adalah Peri yang diutus untuk itu.

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Di akhir November yang basah. Tampias hujan yang dihembus angin sampai juga di  teras rumah tersebut. Bangor buru-buru pindah dari tempatnya berada.   Persis di sebelah Hindun, pemuda itu mendaratkan duduknya.

Suara guntur yang menggelegar di sertai kilatan cahaya  mengejutkan kedua insan tersebut. Hindun berteriak kaget. Kedua tangan  gadis itu mencengkram bahu Bangor yang dibalut dengan jaket kulitnya.  Sambil menyembunyikan wajahnya di belakang punggung pemuda itu.

Bangor bisa mencium wangi tubuh Hindun yang berada sangat  dekat dengannya. Dadanya berdegup kencang seketika, disertai desiran  halus yang mengalir di pembuluh darahnya. Pemuda tersebut baru merasakan  sebuah kehangatan, setelah sekian lama dianggap sebagai preman kampung  yang nggak jelas juntrungannya.

Dengan sangat hati-hati pemuda tersebut meraih tangan  Hindun. Menggenggamnya, lalu mulai merangkai kata-kata yang akan  diucapkannya. Sebuah kalimat cinta yang akan diutarakannya. Malam ini,  disaat hujan turun dengan derasnya. Tepat di akhir bulan November.

Hindun buru-buru menjauhkan tubuhnya. Tangannya masih  berada di dalam genggaman tangan Bangor. Pandangan mereka beradu, cukup  lama mereka saling memandang. Hanya hati mereka yang berbicara, tanpa  bibir yang mengucap kata. Pemuda itu betah berlama-lama bernaung di  dalam mata Hindun yang menatap teduh.

Tapi belum sempat Bangor mengutarakan perasaannya, Pak Haji keburu nimbrung.

"Uhuk, uhuk...!" Babehnya Hindun memberikan isyarat dengan batuknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun