Padahal menurut fakta dan data yang valid tak seperti itu. Mereka mencoba melakukan framing melalui  berbagai cuitan mereka di media sosial  bahwa sikap dan tindakan pemerintah Jokowi dalam penegakan hukum terhadap kelompok seperti FPI atau HTI adalah Islam Phobia namun saat butuh mereka meminta bantuan "umat Islam" yang diklaim oleh mereka seolah-olah seluruh umat Islam di Indonesia.
Hal serupa pun terjadi atas meninggalnya pendakwah Maheer At Tuwaalaibi ditahanan Bareskrim Polri, media sosial diramaikan dengan cuitan dan unggahan yang mem-framing bahwa  almarhum Maheer meninggal lantaran disiksa aparat Kepolisian.
Apakah tindakan-tindakan melakukan framing isu seperti yang mereka lakukan tersebut bukan bagian dari kerja dari seorang pendengung atau buzzer?
Kenapa kok ketika mereka (para oposan) mecuitkan sesuatu yang berpotensi menggiring opini bahwa kinerja pemerintah buruk tak dikategorikan sebagai buzzer.
Namun ketika mereka yang berpihak pada pemerimtah kemudian meluruskan atau melakukan counter narasi atas pengkontruksian opini buruk terhadap pemerintah yang mereka bangun seperti yang dilakukan oleh Denny Siregar atau yang sekarang lagi happening Abu janda disebut buzzer (dalam konotasi buruk).
Ini kan aneh..Â
Apa kah seseorang bisa disebut buzzer itu karena cuitannya berbayar? Saya kerap menulis banyak hal yang isinya melakukan pembelaan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, stand point-nya jelas saya ada dimana, boleh lah saya disebut sebagai pendukung Jokowi.
Meskipun saya bukan pendukung membabi buta, saya pendukung yang cenderung rasional buktinya bukan sekali dua kali juga saya mengkritik beberapa kebijakan Jokowi dengan sangat keras, salah satunya terkait pencalonan anak dan mantunya dalam Pilkada 2020 lalu.
Apakah dengan posisi saya sebagai pendukung Jokowi, kemudian saya mengungkapkan pendirian saya di medsos terhadap sebuah isu yang mendukung pemerintah saya bisa dikategorikan sebagai buzzer?
Jika memang begitu maka saya akan dengan bangga menyebut diri saya sebagai buzzer pro bono, lantaran tak sepeser pun saya menerima uang atas berbagai cuitan dan tulisan saya yang "membela"sejumlah kebijakan Pemerintah Jokowi.
Kenapa saya bangga karena acapkali dengungan yang dilontarkan oleh mereka itu tak berdasarkan data dan fakta yang valid.