Tekanan inflasi yang lebih rendah pada tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya diamini oleh Bank Indonesia.
"Perkiraan kami April dan Mei, Ramadhan tahun ini inflasi lebih rendah dari historisnya," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo kepada Wartawan lewat video conference, di Jakarya, Rabu (22/4/20).Seperti dilansir Suara.Com
Bahkan BI memproyeksikan bahwa inflasi sepanjang bulan Ramadhan tahun ini akan menjadi terendah sepanjang sejarah pola inflasi Ramadhan di Indonesia.
Rendahnya inflasi tahun ini menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo lantaran pada bulan April-Mei 2020 saat Ramadhan dan Lebaran tiba bertepatan dengan panen raya padi di sejumlah daerah, alhasil kebutuhan beras masyarakat akan tercukupi.
Selain itu, seperti yang saya tulis diatas, menurut Perry sisi permintaan terganggu akibat kebijakan PSBB yang membuat minimnya aktivitas dan mobilitas manusia di banyak daerah. Akibatnya permintaan masyarakat menjadi menurun atas barang dan jasa yang tersedia.Â
Seperti diketahui ada dua faktor yang memicu inflasi yakni demand-pull inflation dan Cost-pull inflation. Pada demand-pull inflation, kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya permintaan masyarakat terhadap barang/jasa namun hasil produksi lebih rendah sehingga tak sesuai dengan permintaan masyarakat tersebut.
Sementara dalam cost-pull inflation kenaikan harga terjadi lantaran ongkos produksi suatu barang harganya naik. Kenaikan harga yang merupakan faktor produksi antara lain bahan baku barang dan upah pekerja mengalami kenaikan.
Nah, karena situasi saat ini abnormal, permintaan masyarakat pada barang dan jasa menurun, ujungnya tekanan inflasi menjadi lebih rendah dibanding saat situasi normal.
Jadi inflasi yang biasanya menjadi salah satu rangkaian cerita cinta segitiga antara Ramadhan, inflasi, dan Pertumbuhan Ekonomi, tak akan terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.
Lantas bagaimana dengan Pertumbuhan.ekonomi, yang menjadi pelaku lain dalam cerita cinta segitiga perekonomian Indonesia yang selalu terjadi pada bulan Ramadhan.
Sepertinya kita akan kehilangan momentum untuk dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi secara nasional. Lantaran biasanya pemerintah Indonesia berharap sangat banyak pada bulan Ramadhan untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi dalam tahun tertentu.