Hari ini adalah hari terakhir di hidupku. Besok aku akan masuk ke dapur untuk diolah menjadi bala-bala. Ya, bala-bala. Aku tidak punya pilihan.
Alur hidup kami cukup sederhana. Lahir sebagai gandum, diolah menjadi terigu, masuk akademi, setelah itu kami datang kepada negara untuk diolah menjadi bentuk lain, lalu mengakhiri hidup setelah dikirim kepada konsumen dan dikonsumsi.
Tingkat kesuksesan hidup kami ditentukan oleh akhir hidup kami. Apa wujud akhir kami.
Apabila kamu menjadi gorengan, hidup kamu gagal, keturunanmu akan dicap sebagai kelas bawah. Apabila kamu menjadi roti yang dinikmati orang kaya, maka kamu sukses, keluargamu akan dicap sebagai kelas atas.Â
Negara selalu mengatakan bahwa kami dapat menentukan hidup kami melalui akademi. Itu adalah alasan untuk mewajibkan setiap terigu di negara kami harus masuk akademi.
Setelah lulus akademi, bungkus kami akan penuh dengan atribut yang menentukan akhir hidup kami. Walaupun sebagian besar dari kami tau bahwa itu hanyalah omong kosong belaka. Tau apa negara soal kami. Mereka keluarga kerajaan memiliki akhir hidup yang berbeda. Mereka tidak dimakan. Mereka mati sampai basi dengan dalih bahwa mereka harus memikirkan kami.
Namun negara tidak pernah tau apabila kamu terlahir dari keturunan gandum yang berakhir menjadi bala-bala, maka kamu pun seperti itu. Kecil kemungkinan kamu berakhir menjadi bentuk yang kamu mau. Kecuali keturunan kelas atas datang padamu.Â
Di akhir hidupku, aku hanya ingin duduk dengan santai. Melihat gandum-gandum yang masih lucu-lucunya.
"Kamu benar-benar tidak akan bercerita tentang Rose?"
Ahh aku benci pertanyaan ini. Hanya satu terigu yang bertanya seperti ini. Dia adalah kembaranku. Kami sama-sama akan berakhir besok. Rose? Hanya teman saja.
"Ya, aku sangat yakin."
"Ayolah, ini hari terakhir kita, setidaknya dalam bentuk seperti ini."
"Apa maksudnya dalam bentuk seperti ini?"
"Saudaraku, di kehidupan selanjutnya kita akan menjadi kotoran. Percayalah. Kabar baik ini haruslah kau percayai. Betapa indahnya kehidupan kita selanjutnya. Tidak perlu memiliki rencana, kita hanya tinggal mengalir. Mengikuti arus. Terima kasih usus."
Aku lupa bahwa dia selalu bermimpi untuk menjadi misionaris bagi kepercayaannya. Aku tidak pernah tertarik pada kepercayaan. Lagi pula sangat lazim bagi kami untuk tidak memiliki kepercayaan.
"Ah bagaimana aku lupa akan kepercayaanmu, sudahlah, hentikan, aku tidak akan percaya dengan kepercayaanmu, itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah."
"Eh kamu cerdik sekali. Mengalihkan pembicaraan. Jadi Rose?"
"Tetap tidak."
"Ayolah Cakra biarkan kita berpisah tanpa rahasia satu sama lain."
Sial. Dia benar-benar menggangu. Namun kali ini nampaknya aku tidak akan menolaknya. Lagi pula untuk apa aku simpan terus cerita ini.
"Arggh. Baiklah akan aku ceritakan. Hanya untuk kembaranku"
***
Aku tidak berbohong saat berkata Rose hanyalah teman. Faktanya memang begitu, tidak pernah ada ikatan walaupun kami cukup dekat. Setidaknya bagiku seperti itu.
Dia adalah tepung beras berwarna putih terang. Keluarganya cukup terkenal karena memiliki lagu yang cukup khas. Namun ketenaran keluarganya tidak membantu banyak. Keturunannya hanya berakhir menjadi kue jajanan pasar. Tidak terlalu bagus. Walaupun satu tingkat diatas gorengan.
Aku dan Rose bertemu di akademi. Saat itu Diesnatalis Akademi Punyasari. Kami sama-sama menjadi panitia bagian Information Center di Fakultas Teknik Penyajian. Tugas kami memberikan informasi bagi pengunjung maupun atlet terkait jalannya turnamen seperti jadwal, informasi pembelian tiket, dan lain-lain.
Kelompok kami berisi 12 orang. Kami dibagi menjadi 3 shift per 8 jam. Turnamen sebetulnya berjalan pada pukul 07.00- 21.00, namun kami memiliki bos yang gila dan tidak waras sehingga mengharuskan ada yang berjaga walaupun turnamen sedang tutup.
Di kelompok panitia ini, Rose menjadi primadona karena keindahan estetis yang dimilikinya. Bungkusnya tergambar bunga mawar yang indah sehingga makin menambah keindahannya.
Namun aku melihat dia biasa saja. Keindahan estetis tidak cukup untuk membuatku tertarik. Sampai saat aku tahu melalui penelitianku bahwa dia adalah terigu yang memiliki prinsip.
Dia sering kali memakai bungkus dengan tulisan yang menunjukkan prinsipnya, "Jadilah tepung beras yang indah, dengan etika dan moral yang sama indahnya".
Bagi kami para tepung, etika dan moral tidak terlalu penting. Kamu bisa melakukan segalanya apabila kamu indah. Namun dia melakukannya. Itu cukup untuk membuatku tertarik padanya.
Setelah beberapa hari aku dipindah tugaskan menjadi LO kontingen. Kontingen yang aku layani memiliki banyak permintaan. Pada saat itu mereka memiliki jadwal latihan di sore hari, namun mereka meminta untuk latihan pagi karena mereka memiliki jadwal analisis taktik di sore hari.Â
Setelah koordinasi dengan beberapa pimpinan, saya mendapatkan solusi. Mereka bisa latihan di pagi hari namun dengan konsekuensi durasi mereka berkurang 20 menit dan mereka harus benar-benar tepat waktu karena waktu lapangan yang disediakan sangat terbatas, hanya selang beberapa menit sebelum dipakai kontingen selanjutnya. Tanpa komentar, mereka menyetujuinya.
Saat itu latihan berjalan lancar. Namun yang aku takutkan terjadi. Waktu latihan mereka tinggal 5 menit lagi namun belum ada tanda-tanda latihan itu akan berakhir.
"pak izin mengingatkan waktu latihan anda 5 menit lagi." aku datang untuk mengingatkan mananjer kontingen.
"oke, ini juga udah mau beres kok" jawab manajer kontingen
Entah mengapa aku tidak yakin dengan jawaban ini. Namun dengan terpaksa, aku berpikir positif.
"Baik pak terima kasih. Izin pak di mohon supaya kita bisa tepat waktu soalnya sebentar lagi lapangannya akan dipakai kotingen lain"
"Oke terima kasih banyak"
Waktu Latihan mereka sudah habis. 5 menit lagi kontingen lain sampai. Namun mereka baru menutup latihan. Sial. Mati aku. Kalo sampe kontingen 2 udah datang aku pasti kena marah. Dalam kondisi seperti itu terlintas ide untuk bertanya pada teman-teman divisiku dulu.
Seingatku information center itu memiliki meja yang berdekatan dengan bagian akomodasi yang salah satu tugasnya adalah menyiapkan transportasi kontingen. Oke bagus. Aku berusaha mengingat siapa yang bertugas di shift kali ini. Lalu akhirnya muncul satu nama. Rose.
"Ka Rose, mau minta tolong," aku memberanikan diri untuk bertanya melalui alat komunikasi yang diberikan oleh atasan kami. "Tolong tanyain ke akomodasi, kontingen 2 berangkat ke tempat latihan pukul berapa?"
2 menit berlalu. Terasa sangat lama sekali. Sampai akhirnya muncul notifikasi. Dari Rose.
"Mereka baru berangkat 10 menit lalu"
10 menit lalu? Phew. Syukurlah. Berarti kontingen selanjutnya terlambat datang. Setelah selesai membaca informasi tersebut peralatan latihan sudah dibereskan. Atlet sudah siap untuk pulang. Aku selamat.
 "Terima kasih banyak, Ka," percakapan itu aku tutup.
Ini bukan percakapan modus. Tidak sama sekali. aku tidak seperti makhluk bernama manusia yang sering di kami lihat di film. Aku tidak mengerti ada makhluk yang tidak berani untuk terang-terangan. Makhluk penakut. Aku tidak seperti itu. Aku hanya bertanya dalam rangka mengerjakan tugas. Tidak lebih.
Tugasku hari ini sebenarnya sudah selesai, namun aku tetap harus standby, setidaknya sampai sore. Untungnya tempat kontingen ini menginap cukup nyaman dan pegawainya cukup ramah sehingga saya bisa duduk santai di lobi. Tiba-tiba notifikasi masuk. Rose.
"emangnya ada apa gitu?"
Pertanyaan itu cukup menggangu. Bukan karena aku harus menjawabnya, tapi karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul di bungkusku. Bukankah percakapan sudah aku tutup, lantas mengapa dia melanjutkan obrolan? Apakah mungkin dia ingin berbincang denganku? atau mungkin lebih dari itu?
Ahh tidak mungkin. Dia adalah primadona. Dia bisa memilih orang yang dia inginkan. Aku harus berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Sudah pasti dia hanya beramah--tamah saja. Itu hanya pertanyaan biasa. Setelah itu pasti obrolan selesai.
"tadi kontingen yang saya layani pindah jadwal, trus mereka dikasih tau kalo pindah jadwal konsekuensinya durasinya berkurang dan harus tepat waktu banget. Eh ternyata mereka tadi ngaret ka, makannya tadi nanya kontingen 2 soalnya mereka yang bakal make. Untung aja telat"
"Ohh buf buf buf"
Oh My Usus! Dia tertawa. Setidaknya itu yang ia ingin tunjukkan. Kita tau saat mengetik buf buf buf, tidak secara harfiah kita sedang tertawa.
"Cakra disitu tempatnya enak gak?" Rose kembali bertanya.
Pertanyaan kembali muncul dibungkusku, mengapa malah terjadi obrolan? Namun pertanyaan itu aku jawab dengan cepat. Aku jawab seadanya. Tidak melebih-lebihkan. Tidak dikurang-kurangi.
 "Bosen ih di sini mulu, pengen pindah juga kesitu"ujar Rose.
Pesan itu membuat diriku begoncang. Partikel teriguku terombang-ambing. Campur aduk. Yang atas turun ke bawah dan begitu pula sebaliknya. Optimisme mulai memenuhi bungkus jelekku. Aku tidak bisa lagi berpikir rasional.
Tidak butuh waktu lama untukku menyimpulkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan pada diri sendiri: Rose tertarik padaku! No Debate. Kesimpulan itu membuat aku tidak berpikir cermat. Alih-alih bertanya alasan Rose bosan, dan ingin pindah kesini aku malah langsung terbakar untuk unjuk diri. Menunjukkan bahwa aku adalah terigu paling pemberani yang pernah diciptakan.
"aku sudah pernah memprostes Bos Rose secara langsung supaya lebih manusiawi dalam pembagian tugas. Namun sayangnya beliau bergeming pada pendiriannya." Jawabku.
Sampai sekarang aku menyesali jawaban itu, aku harusnya lebih sabar dan menggali lebih banyak informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada suatu kesimpulan. Walaupun begitu sejak saat itu kami mulai dekat. Chatting-an sampai malam. Bermain beberapa kali. Indahnya.
Jujur aku bingung mengapa Rose ingin dekat denganku saat dia bisa memilih untuk dekat dengan siapa saja. Namun aku tidak akan mengecewakannya. Sejak saat itu aku berjanji untuk membahagiakan Rose. Bagaimanapun caranya.
Sampai pada suatu saat, tokoh antagonis datang. Bob R. Mills Namanya. Dia kawan satu angkatan kami. Dia tercipta di negara ini namun pendahulu-pendahulunya berasal dari negara yang jauh.
Dia ada di fakultas Roti. Fakultas yang terkenal akan kemewahannya, bukan hanya dari gedungnya, namun peserta didiknya tidak kalah glamor. Virgo, teman dekat Rose memberitahu bahwa Bob R. Mills mendekati Rose.
Walaupun begitu nampaknya Rose sama sekali tidak tertarik dengan Bob. Aku dan Rose masih sangat dekat. Namun terlihat sekali semangat Bob tidak pudar. Beberapa usaha Bob untuk mendekati Rose selalu gagal. Bahkan saat Bob mengajak Rose menaiki nampan stainless steel miliknya, Rose tetap menolak. sebagai informasi, nampan stainless steel milik Bob adalah yang terbagus yang pernah aku lihat, sebagai perbandingan kendaraanku saja masih baskom plastik dan itupun masih nyicil.
Semua yang asalnya buram menjadi jelas ketika Virgo bercerita obrolan Rose dengan Bob
"Bob bilang kalau mereka bersama Bob akan membawa Rose ke keluarganya untuk bersama-sama menjadi Pizza"
"Bagaimana bisa? Bukankah Rose adalah tepung beras? Tepung beras akan menjadi jajanan pasar? Bagaimana bisa menjadi pizza?"
"Bob menjelaskan bahwa di negaranya sana mereka punya teknologi buatan manusia yang dapat membuat itu bisa terjadi. Semuanya akan diatur oleh keluarga Bob."
Sial. Menjadi pizza adalah impian setiap terigu yang pernah diciptakan. Kamu akan disajikan dengan layak, dimakan dengan adab, di tempat yang elegan. Sedangkan bala-bala? Buf buf buf. Aku yakin kamu tidak mau mendengarnya.
"terima kasih banyak virgo, kamu teman yang baik" obrolan itu aku tutup. Tidak ada yang bisa aku katakan lagi. Hanya itu. Terima kasih.
Semuanya jelas. Bob adalah terigu yang dinanti oleh setiap terigu. Rose beruntung untuk bisa bersama Bob. Bersama Bob, Rose akan bahagia. Dia akan mendapatkan sesuatu yang diimpikan oleh seluruh terigu di dunia. Menjadi pizza. Mengakhiri hidup dengan sangat layak. Sedangakan aku? Sudah jelas. Aku tidak pantas untuk Rose. Rose tidak akan bahagia bila bersamaku.
Bagaimana mungkin Rose akan bahagia dengan terigu yang akan berakhir menjadi bala-bala. Kami hanya akan menjalani hari-hari biasa apabila bersama. Malangnya Rose, pernah menghabiskan waktu-waktu yang dia punya hanya untuk bersamaku. Apabila semua lelaki seperti Bob dan bukan seperti aku, sudah tentu dunia akan bahagia.
Rose tidak pernah tau bahwa aku selalu mencari informasi lewat Virgo. Sikapnya tidak pernah berubah. Bagaimanapun Bob mendekatinya, dia tetap selalu tersenyum padaku, membalas setiap pesan yang aku kirimkan. Rose yang malang.Â
Kamu harus bahagia Rose. Ketika itu juga pesan Rose dengan perlahan mulai aku abaikan sampai benar-benar tidak pernahku balas. Aku selalu menghilang ketika Rose mencariku. Aku menghilang dari kehidupan Rose.
Setelah pelarian begitu lama akhirnya aku melihat Rose memiliki ikatan dengan Bob. Pada akhirnya Rose menaiki nampan stainless stell miliki Bob. Senyumnya seperti biasa mekar dengan indahnya walaupun untuk orang lain. Namun dengan kondisi seperti ini aku lebih bahagia daripada sebelumnya.
Nampaknya aku menepati janjiku. Membuatnya bahagia. Bagaimanapun caranya.Â
***
"Oh kembaranku, akhirnya aku tahu mengapa kau tidak mau bercerita. Maafkan aku"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku senang bisa berbagi cerita di waktu-waktu terakhirku"
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI