Dewi Kunti masih duduk terpekur di bawah pohon besar seraya membopong bayi mungil di dalam pangkuannya.
"Kuberi nama bayi kita ini Karna. Yang berarti talingan atau pendengaran," masih terngiang kata-kata Dewa Surya beberapa waktu lalu, sebelum ia pergi menuju kahyangan.
Dalam versi lain wiracarita, disebutkan, nama Karna berarti bayi yang dilahirkan lewat telinga. Di mana Dewa Surya sengaja melakukannya demi menjaga keperawanan Dewi Kunti agar tetap utuh.
Kembali ke Dewi Kunti.
Kehadiran Karna yang tidak disangka-sangka itu, tak pelak membuat perasaannya kian diliputi gundah gulana. Bagaimana jika ayahanda atau orang-orang terdekatnya tahu ia sudah memiliki seorang anak? Tidakkah mereka akan menghujatnya habis-habisan? Atau, bisa jadi mereka akan mengusir dan tidak mengakuinya lagi sebagai bagian dari kerajaan Yadawa.
Berpikir demikian, mendadak hati Dewi Kunti menjadi gelap. Ia nekat memasukkan bayi Karna ke dalam sebuah peti. Kemudian, dengan mata terpejam ia menghanyutkan bayi itu di sebuah sungai tak jauh dari tempatnya bersimpuh.
Tapi Dewa Surya---sang ayah, datang melindungi bayi tak berdosa itu.Â
Seorang sais yang tengah melintas di atas jembatan, tanpa sengaja melihat sebuah peti kimpul-kimpul di atas permukaan air. Sais itu bergegas turun guna mengentas peti mencurigakan itu.
Dan, alangkah terkejutnya laki-laki penarik pedati itu. Saat membuka peti, ia menemukan seorang bayi tampan, berpakaian ala dewa-dewa---tersenyum lebar lalu melompat lincah ke dalam pelukannya.
***
Malang, 19 Januari 2019