Mendapat penjelasan itu, Al Samad gembira. Tapi itu hanya sebentar. Sebab, setelah dipikir, lokasinya jauh. Ongkosnya mahal. Ya, bagi seorang Al Samad yang mengandalkan gaji sebagai seorang penghulu, ya jelas 'kedodoran kantong". Apa lagi mengaku-ngaku dirinya pengulu, ia paling takut. Pasalnya, sebutan miring kepada penghulu masih melakat, sebagai penerima dana gratifikasi.
"Tapi, kalau mau melihat lokomotif saja, mudah. Di Jakarta ada, tempatnya di TMII," sang petugas menjelaskan.
Mendapat penjelasan itu, Al Somad bergegas keluar bersama istri yang tengah mengandung itu. Ia kembali menghibur istrinya sambil bercerita bahwa kereta yang dimaksud ada di TMII. Kembali lagi istrinya nampak gembira. Mukanya tak lagi cemberut. Bahkan mau bercerita, yang katanya ingin naik kereta itu sambil makan roti.
Betul saja, sesampai di TMII di museum KA istrinya mengelus kepala lokomotif dengan lembaran-lembaran tisut. Lantas, lembaran itu dimasukan ke tas.
"Ini akan disimpan. Nanti, kalau anak ini brojol, ngelap ingusnya pakai tisu ini," Al Somad tertawa meski penjelasan istrinya itu sangat irasional.
Dan, kereta api berlokomotif itu bergerak. Berkeliling TMII dengan suara lonceng teng teng teng sepanjang perjalanan. Al Somad merasa puas. Pokoknya, istri gembira. Perempuan memang ingin dimengerti. Itu saja. Titik.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI