"Ya jelas lah, aku ini melihat orang dari sikapnya, jujur, tanggung jawab, sabar, juga telaten!"
"Hahaha ... dulu Bude menolak kamu loh, karena Alin sudah Bude anggap seperti anak sendiri sepeninggal orang tuanya. Bude pikir kamu orang yang loyo dan tidak bisa jadi suami yang baik. Lah kok si Alin terlanjur kepincut sama kamu." Ucapnya sambil tertawa mengingat betapa bodoh ponakannya sampai memohon padanya dulu.Â
"Bude tau kamu sangat paham akan agama, tapi ketika melihat pekerjaanmu dulu Bude melarang, takut kalian akan mengalami pertengkaran karenanya, tapi lihat sekarang. Lega sekali rasanya. Memang watak keras nya Alin itu cuma bisa luluh sama sabarnya kamu Zah!" Ucap Bude sambil mengusap wajah Hamzah.Â
"Le, uang itu bisa dicari tidak usah kamu bingung sama masalah itu semua sudah ada ketentuannya. Barangkali Alin marah padamu, Taulah itu cuma karena dia kelas atau perasaannya sedang buruk orang Pakde saja dapat marahnya juga dulu sering sekali."Â
"Betul sekali, bahkan setara Bude yang merawatnya saja dapat marahnya ya Pakde hahaha, memang wataknya yang begitu. Itulah nak kalau Alin itu api kamu yang jadi airnya bukan untuk membunuhnya, tapi mencegah dia agar tidak merusak dan memporandakan dunia."Â
"Hancur dunia kalau Alin ketemunya yang wataknya sama. Hahahaha!"Â
Mendengar semua wejangan itu Hamzah hanya termenung. Ia hanya tersenyum dan tertawa dipaksakan.
Hamzah kembali pada duduknya dengan menggenggam tangan istrinya. Ia kemudian membacakan ayat Al-Quran yang ia hafalkan. Ia kembali berpikir sambil membacakan ayat suci. Sudah benarkah keputusannya menceraikan istrinya sedang yang ia pelajari dulu ustadz sangat mewanti-wanti semua muridnya untuk tidak gampang bercerai. Dengan berakhirnya surat yang ia baca ia tertidur sambil menggenggam dan mencium tangan kecil istrinya.Â
"Mas hamz...A..M..as..Hamzah.." Ucapan lirih itu membangunkan Hamzah dari tidur pulas nya. Ia tersadar kemudian langsung menimpali panggilan itu.
"Iya sayang.. Mas disini Alin..." Ucapnya sambil mengelus wajah mungil istrinya dengan tangan besarnya. Hatinya bergetar, sudah lama kata sayang tidak terucap untuk satu sama lain.
Tak lama setelah panggilan Hamzah pada istrinya Alin mulai membuka matanya perlahan ia mengerjap memandang suaminya yang kini berderai air mata di depannya. Kemarin bahkan mereka beradu pandang penuh dendam sedang kini ia dapati tatapan halus penuh khawatir dari sang suami.Â