Mohon tunggu...
Dwi Klarasari
Dwi Klarasari Mohon Tunggu... Administrasi - Write from the heart, edit from the head ~ Stuart Aken

IG: @dwiklara_project | twitter: @dwiklarasari

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Merindu Abimanyu (Bagian 2)

5 September 2020   13:19 Diperbarui: 6 September 2020   08:35 249
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Enrique Meseguer -- pixabay.com (with photo filter)

Dahulu, aku memakai syal itu ke mana pun pergi. Aku juga memakainya untuk melepas kerinduanku bila Abi ke luar kota untuk mengikuti pameran. Entah mengapa selalu ada keharuan setiap kupakai syal pemberiannya. 

 

Bisa saja aku tiba-tiba berurai air mata. Jika kudengar pintu pagar dibuka dan kukira itu Abi, buru-buru kuhapus air mataku. Pantang bagiku menunjukkan kelemahan di depannya. Aku selalu ingin Abi mengenalku sebagai wanita tegar. 

 

Jika ternyata yang datang adalah Mbok Mi, kubiarkan saja air mataku meleleh mengikuti hukum gravitasi. Bagaimanapun Mbok Mi terlanjur sering memergoki aku menangis. Wanita enam puluhan itu telah kuanggap sebagai ibuku semenjak ia datang membantuku mengurus rumah. Selain Abi, dialah satu-satunya keluargaku.

Aku kembali memandangi Abimanyu. Dari jarak sedepa dapat kucium harum aroma tubuhnya. Pakaiannya cerah, licin, dan sepertinya sangat lembut. Aku selalu bertanya-tanya apakah ia juga rajin mencuci dan menyetrika bajunya saat dulu tinggal sendiri.

Abi sungguh berbeda dibandingkan saat pertama kami berjumpa.

Seperti pernah kuceritakan, aku bertemu Abi di jalanan kompleks tempat tinggalku. Awalnya kami hanya saling melempar pandang. Oya, lupa kukatakan, waktu itu usia Abi sekitar empat atau lima tahun.

Entah dari mana ia datang. Ketika itu ia terlihat kumal dan bau. Seingatku, aku selalu mual setiap kali ia meraih dan menciumi punggung tanganku. Begitu pun saat ia mulai bergelayut di tanganku dan tak mau dilepaskan sebelum kucium keningnya.

Dalam perjalanan ke kantor tak henti kuusapkan hand sanitizer ke tanganku. Jika belum terlambat tiba di kantor aku pasti akan mencuci lagi tanganku dengan sabun. Lagi dan lagi.

Saat akhirnya kubawa ia di rumahku, segera saja kuubah tampilannya. Kuminta salon langgananku mencuci dan memangkas rambutnya. Kumandikan ia dengan dua kali bersabun. Kukenakan satu dari lusinan kaos dan celana baru yang kubeli. Setiap hari aku dan Mbok Mi berjuang keras mengajarkan norma-norma kebersihan dan memberikan contoh hidup sehat.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun