Selain inflasi, konflik Rusia dan Ukraina menimbulkan dampak negatif dari sisi ekspor. Ketegangan yang ada saat ini mampu memberikan tekanan dari sisi ekspor. Wilayah yang dilanda konflik merupakan wilayah alternatif pasar ekspor yang cukup potensial, yaitu wilayah Rusia dan Eropa Timur.Â
Di satu sisi hal ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia, melalui tindakan pencegahan dengan mengalihkan komoditas ekspor ke negara yang secara geopolitik tidak terdampak konflik.Â
Selain itu, Indonesia perlu berupaya dalam mencari cara agar potensi investasi dari Rusia dan Ukraina maupun negara lainnya yang terdampak di Eropa Timur itu dapat teralihkan basis produksinya agar masuk ke Indonesia.
Keterkaitan Konflik Rusia-Ukraina dengan Kondisi Makroekonomi
Keadaan peperangan bukanlah situasi yang bersahabat dengan ekonomi. Cepat atau lambat, akan ada dampak yang diberikan oleh peperangan, baik itu dampak negatif maupun dampak positif. Konflik antara Rusia dan Ukraina tentunya bukanlah suatu pengecualian.Â
Sebagai negara dengan ekonomi cukup terbuka, dan status penyedia minyak dan gas terbesar untuk uni eropa, dampak yang dirasakan tentu akan menjalar ke ekonomi dunia secara keseluruhan. Ditambah dengan situasi ekonomi dunia yang masih terlibat dalam 'peperangan' nya sendiri dengan Pandemi Covid-19, asumsi skenario buruk pun tentu sangat banyak.
Sebagai penyedia minyak dan gas terbesar bagi uni eropa, dengan  adanya peperangan maka akan ada banyak shock yang terjadi seputar perdagangan energi dunia.Â
Negara barat dan penerima minyak dan gas dari Rusia akan memberikan sanksi kebijakan pada perdagangan energi, hal ini pun dapat memicu Rusia untuk mengurangi penjualan secara keseluruhan. Bila tidak ada penyedia pengganti yang cepat, maka permintaan yang berlebih dapat memicu terjadinya krisis energi yang masif.
Krisis energi pun akan memberikan efek domino lagi kepada ekonomi dunia. Sebagai sumber input dari banyak sekali komponen produksi, bila harganya terus naik maka output dari negara-negara yang bergantung pada minyak dan gas Rusia berpotensi menciut.Â
Selain itu biaya produksi akan meningkat dan menyebabkan masalah ekonomi lain yaitu inflasi dan pengangguran atau bahkan bila dampaknya sangat besar dapat menyebabkan stagflasi. Ekonomi terus memelan, investasi semakin berkurang, dan pasar uang serta pasar modal pun berpotensi runtuh.Â
Untuk Indonesia, kejadian ini memiliki kemiripan dengan oil boom pada tahun 1970an. Dimana konflik negara timur tengah membuat harga minyak naik tinggi dan krisis energi melanda dunia. Indonesia pun yang saat itu merupakan negara eksportir minyak, meraup keuntungan yang besar dan masuk ke fase economic boom.Â