"Nanti Kita kerumahku ya"
"Ngapai kerumahmu, langsung aja antarkan aku pulang, aku segan ketemu sama keluargamu, toh aku bukan siapa-siapa" Â langsung nada bicaraku Naik ke Anji
"Makanya siapin aku ngomong dulu, baru kamu bicara Zizi"
"Maksud ke rumahku yang satu lagi"
"Emang kamu punya Dua rumah" tanyaku dalam kebingungan , soalnya selama kami pacaran aku ngak pernah tahu terlalu dalam tentang keluarga dan hartanya si Anji
" Oke deh" jawabku simple
Kemudian hujan pun berhenti Dan kami lanjutkan perjalanan yang beberapa menit lagi sampai. Ternyata rumah kedua Anji ngak terlalu jauh dari tempat peristirahatan tadi
Anji langsung memakirkan motornya di teras rumah. Kulihat sekeliling banyak rumah warga namun  suasana perkampungannya mati. Anji pun membuka Pintu rumahnya. Terdapat ruang tamu dan beberapa perhelatan lainnya yang tersusun rapi dan terawat dirumah tersebut. Anji pun memyuruhku untuk duduk dikursi dan dia mengambilkan minuman dalam lemari esnya.
Tidak Ada terdengar suara manusia selain dialog kami berdua dengan Anji dalam rumah tersebut, hatiku mulai merasa aneh dengan keadaan seperti ini
Dengan wajah berani dan tanpa ketakutan aku duduk dan coba mencari kesibukan sendiri dengan main hp.
Anji menatapku begitu dalam, Dan pandangannya tidak pernah lepas dari padanganku, tidak biasanya Anji seperti itu
" Nji, toilet dimana" langsung aku kabur dihadapan Anji
Anji pun terkejut dengan nada suaraku yang lumayan nyaring
" Oh ya, Ada Dibelakang, "
Entah kenapa Anji mengikutiku sampai Pintu toilet, didalam toilet aku sangat ketakutan, sampai akhirnya aku tidak mau buang air kecil, melihat kondisi Pintu toilet yang sangat prihantikan, dan terdapat bolong di Pintu tersebut.
Sengaja aku lama-lama di toilet agar Anji tidak betah depan toilet. Akhirnya ku dengar Anji menuju jalan ke ruang tengah..
Aku pun mulai binggung dengan gerak-geriknya si Anji yang berubah
Kuberanikan diri untuk keluar toilet dan kembali duduk di kursi tamu, kulihat Pintu rumah yang ditutup oleh Anji. Ketakutan ku semakin memuncak.
Kuambil helm untuk memberikan kode ke Anji, namun Anji memyuruhku untuk duduk dan beristirahat. Tatapannya yang masih menatapku dan gingsul giginya yang selalu dilihatkan di wajahku
"Ngak usah buru-buru Zi, sini duduk samping ku" ucap Anji
Suara Anji yang selalu kupuja Hari ini lebih terdengar seperti rayuan setan di siang hari
Tidak mau terpedaya langsung aku marah ke Anji