Anji langsung respon  " kan Kita ngak tahu tentang jodoh, Mana tahu kamu jodohku kan"
"Terus Wenda kamu apain, lagian aku juga ngak berharap sama kamu" judesku berkata
"Ternyata kamu masih kayak Zizi yang dulu, ngak pernah berubah, dan aku memang rindu itu" sahut Anji dengan berupaya mengelengkan kepalanya kebelakang
" Nji Fokus aja dengan mengendari motornya, nanti Ada Anjing gimana, sumpah aku geli dengar ngomong itu Nji" Â langsung kupukul punggung Anji dengan tanganku yang udah mulai jijik dengan rayuan gombalnya ..
"Hahahhah, sudah-sudah mending Kita bahas yang lain toh" alasanku untuk memotong pembicaraaan
Setelah satu jam perjalanan kami sudah jauh dari hiruk pikuk Kota dan sekarang berjumpa dengan sawah yang hijau serta udara yang segar dan dingin. Kutatap awan yang berubah menjadi kelabu.
"Sepertinya hari mau hujan Nji"
"Mungkin"
"Coba lihat pengendara tersebut sudah basah kuyup " kulihat pengendara yang dari kampung menuju Kota
"Tenang Zi , aku Ada mantel kok"
Benar saja beberapa waktu perjalanan Kami diguyur hujan..
Respon ku terhadap hujan biasa aja, tapi reaksinya si Anji langsung mencari tempat teduh karena kwatir denganku
" Kamu ngak apa2 Zi" cemas Anji menatap sekujur tubuhku yang sudah dibasahi hujan
" Biasa aja , aku ngak apa2 kok, ini baru hujan rinai, nanti bajuku juga kering" dan mencoba mengamankan semua tas bawaanku
Anji langsung membuka jaketnya Dan memberikannya padaku " pakai ini Zi"
"Kamu aja pakai, kamu kayak ngak kenal aku manusia yang paling kebal dengan cuaca " jawabku dengan bibir yang mulai membiru karena kedinginan
"Ngak usah belagu sok kuat kamu," Anji memasangkan jaket tersebut kebadanku.
Dia menatap hujan dan sesekali mengkondisikan barang bawaanku supaya ngak basah karena hujan..
" Kamu tadi udah makan Zi?" Tanya Anji membelah kebungkaman di rintik hujan yang deras
"Aman " senyumku pada Anji