Kita sering kali terjebak dalam perangkap 'bahagia nanti'. Bahagia nanti, setelah mendapatkan pekerjaan impian. Bahagia nanti, setelah menikah. Bahagia nanti, setelah punya rumah sendiri. Tapi, kebahagiaan sejati tidak ada dalam 'nanti'. Kebahagiaan sejati ada dalam 'sekarang'.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan adalah tentang merasa cukup. Tidak perlu selalu mengejar, tidak perlu selalu memburu. Cukup merasakan, cukup menghargai, cukup bersyukur. Itulah yang membuat bahagia.
Demikianlah sedikit cerita tentang kebahagiaan. Semoga bisa menjadi inspirasi dan pencerahan. Semoga bisa membantu menemukan kebahagiaan sejati. Semoga bisa membuat hidup lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berarti.
Referensi:
- Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2001). On happiness and human potentials: A review of research on hedonic and eudaimonic well-being. Annual review of psychology, 52(1), 141-166.
- Lyubomirsky, S., & Dickerhoof, R. (2005). Subjective happiness. In Handbook of positive psychology (pp. 803-810). Oxford University Press.
- Seligman, M. E. (2002). Authentic happiness: Using the new positive psychology to realize your potential for lasting fulfillment. Simon and Schuster.
- Ryff, C. D., & Singer, B. H. (2008). Know thyself and become what you are: A eudaimonic approach to psychological well-being. Journal of Happiness Studies, 9(1), 13-39.
- Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: an experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of personality and social psychology, 84(2), 377.
- Lyubomirsky, S., Sheldon, K. M., & Schkade, D. (2005). Pursuing happiness: The architecture of sustainable change. Review of General Psychology, 9(2), 111-131.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H