Selanjutnya, Belanda dikenal sebagai negara dengan infrastruktur maju. Tidak hanya soal sepak bola, namun dapat dibuktikan dengan kondisi secara umum lewat negaranya yang tidak diterpa masalah banjir dan tenggelam. Padahal, secara geografis, Belanda mempunyai ketinggian daratan yang rata-rata di bawah permukaan laut.
Artinya, pengetahuan mereka terhadap pembangunan infrastruktur dapat dikatakan sangat maju. Maka, Indonesia pun sebetulnya bisa belajar dari mereka untuk membangun infrastruktur, terutama untuk sepak bolanya.
Bisa sering kita lihat, bahwa stadion Indonesia masih sering tiba-tiba menjadi 'kolam lele' ketika hujan, padahal itu untuk pertandingan Liga 1 yang konon kabarnya mempunyai verifikasi stadion berstandar internasional.
Ditambah, secara geografis, Indonesia masih punya permukaan daratan yang lebih tinggi dari permukaan laut. Tetapi, isunya pada tiap tahun selalu tentang banjir. Dan, ketika secara umum daerahnya masih ada banjir, begitu pun dengan stadionnya yang masih bermasalah dengan drainase.
Padahal, sebagai negara tropis, seharusnya sudah dapat mempelajari dan mulai bisa menaklukkan dampak dari kondisi alamnya tersebut seperti yang dilakukan Belanda.
Mengenai infrastruktur ini tentu tidak hanya belajar pembangunannya, melainkan juga belajar tentang etika menjaga lingkungan dan infrastruktur, agar alam tropis yang sebetulnya kondusif dan bikin betah pesepak bola yang 'pensiun' dari kompetisi Eropa ini lebih menguntungkan bagi perkembangan sepak bola Indonesia.
Sayangnya, di antara bagusnya Belanda dalam mengelola sepak bolanya, ada satu hal yang membuat kebanyakan orang termasuk di Indonesia kurang mengagumi dan mengakui kehebatan Belanda di sepak bola. Yakni, sulitnya Belanda untuk betul-betul menjadi yang terbaik di dunia maupun Eropa.
Di level klub, setidaknya Belanda masih dapat merasakan gelar supremasi di Liga Champions Eropa (UCL), namun di tim nasional, Belanda masih kesulitan meraih gelar juara di Piala Dunia.
Gelar juara ini sebagai tujuan akhir serta penegasan buah dari proses dan pengelolaan sepak bolanya yang matang. Pencapaian terbaik Belanda di Piala Dunia adalah peringkat kedua sebanyak tiga kali.
Sebetulnya, apa yang diraih Belanda tetap luar biasa. Namun, seandainya Indonesia mengundang Belanda untuk menjadi mentor sepak bola kita, mungkin yang menjadi pengganjalnya adalah cara memperkenalkan mereka sebagai finalis Piala Dunia. Seolah-olah, kenapa kita tidak sekalian berguru kepada yang sudah pernah juara Piala Dunia?
Ya, itulah yang bisa saja membuat Belanda kurang dianggap prioritas untuk dijadikan panutan, terutama di Indonesia.