Seperti namanya Friendshoring yang digagas Yellen mirip offshoring. Hanya saja friendshoring lebih bertujuan memindahkan bisnis perusahaan dari negara yang tidak bersahabat ke negara yang lebih "ramah". Sederhananya, Friendshoring itu offshoring ke negara sahabat.
Jadi, AS ingin memindahkan bisnisnya ke negara-negara yang bisa disebut teman. Kemudian membatasi perdagangan ke lingkaran tertentu saja. AS hanya ingin melakukan bisnis dengan mitra tepercaya.
Kenapa AS ingin melakukan friendshoring? Â apa untungnya bagi mereka? apa untungnya bagi sekutu mereka? dan bagaimana hal itu bisa mengubah dunia kita? Pertanyaan-pertanyaan barusan akan menjadi fokus artikel ini.
Seperti yang sudah disampaikan di atas, AS ingin melakukan freindshoring investasinya. Mereka Ingin berbisnis hanya dengan negara-negara sahabat. Katanya, tujuannya untuk mengamankan rantai pasokan, menurunkan risiko ekonomi, dan memperluas akses pasar.
Tapi saya kira ada satu lagi  yaitu untuk melawan Cina dan Rusia. Kenapa saya bilang begitu? Kita lihat peristiwa yang bergejolak dalam tiga tahun terakhir seperti perang dagang (war trade) Donald Trump dengan Cina.
Lalu, Rusia "mempersenjatai" pasokan makanan, ancaman cina menyerang Taiwan, dan pandemi menyebabkan perlambatan ekononomi. Semuia peristiwa ini telah mengganggu bukan hanya AS tapi juga ekonomi global.
Semua peristiwa dalam tiga tahun terakhir telah mengekspos risiko offshoring seperti bagaimana bencana tak terduga di satu belahan dunia bisa mengosongkan rak di supermarket di belahan dunia lain, dan bagaimana satu negara dapat secara tidak adil memanfaatkan posisi pasarnya mempersenjatai pasokan sumber daya utama dan mengganggu ekonomi negara yang bergantung  padanya.
Ada data menarik dari GEP yang merupakan salah satu penyedia terkemuka perangkat lunak inovatif untuk rantai pasokan. Mereka mensurvei masalah-masalah yang terjadi pada rantai pasokan perusahaan.Â
Survei GEP menemukan bahwa lebih dari 66% perusahaan menghadapi redundansi (duplikasi atau penyimpanan data yang sama secara berulang dalam beberapa file, sehingga data yang sama di simpan di dalam lebih dari 1 lokasi) dalam rantai pasokan. 46% menghadapi kemacetan pengiriman dan logistik. 45% tidak dapat memenuhi biaya tenaga kerja di luar negeri. Dan 43% menghadapi masalah dengan biaya bahan baku.
Akibatnya rantai pasokan terputus. Harga minyak meningkat tajam, harga pangan tumbuh setiap hari, begitu juga harga komoditas lainnya. Ekonomi dunia menderita gegara gangguan rantai pasok yang terjadi dalam tiga tahun belakangan.
Data menarik lainnya dari PEW Research Centre, 37 dari 44 negara maju mengalami tingkat inflasi lebih dari dua kali lipat. Termasuk Inggris, Perancis, Jerman, dan Amerika Serikat. Pada bulan  Juni, inflasi di AS mencapai 9,1%.Â