Beberapa tahun lalu saya masih bisa melihat kebun-kebun jagung, gandum bahkan padi dan barbabietola (bit) untuk dibikin gula di sekitar Regione Veneto.Â
Tapi sejak provinsi Treviso dinobatkan sebagai penghasil minuman anggur prosecco nomer 1 di dunia, harga jagung dan gandum langsung anjlok. Petani di wilayah ini termasuk Oderzo, cenderung hanya menanam anggur karena harganya jauh lebih baik.
Selalu ada hikmah dari setiap masalah. Belajar dari konflik Rusia-Ukraina, petani di Veneto merasa bertanggugjawab untuk mengusahakan kembali ladang-ladang mereka menjadi kebun-kebun gandum dan jagung.Â
Mereka juga menuntut pemerintah untuk menimbang ulang soal harga gandum dan jagung lokal. Boleh bangga menjadi produsen anggur terbaik di dunia, tapi tidak semua orang Italia mengkonsumsi minuman anggur. Masyarakat masih butuh gandum dan jagung untuk menyambung hidup.
Untuk teman-teman di Indonesia, kelangkaan minyak sawit kiranya menjadi motivasi kita besama untuk mulai memikirkan berbagai alternatif minyak goreng nabati dari aneka biji-bijian yang ada di bumi Indonesia. Negeri kita kaya, sangat kaya. Saatnya memikirkan cara mengolah dengan baik semua sumber daya alam yang telah tersedia.Â
Italia jauh lebih kecil dan nyaris tak punya sumber daya alam karena negerinya sangat terbatas oleh iklim. Namun mereka memiliki SDM (sumber daya manusia) yang bisa mengolah sumber daya alam (walau hasil impor) menjadi produk unggul yang mendunia. Sebagai contoh, mereka tak pernah melihat pohon kopi apalagi kebunnya. Tapi olahan biji kopi mereka sangat dikenal dan mendunia.
Sungguh bangga menjadi orang Indonesia!!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H