Â
"Amandla... kamu sehat kan nak?" seperti kuatnya akar pohon bakau yang menanjap dipinggir pantai sekan tidak berguna karena genggaman hatiku saat memeluk mereka mampu memecahkan kerusuhan hatiku.
Â
"Kakak sehat kok yah, ibu sehat juga kan?" tidak perlu mereka menjawab sehat atau tidak, karena sesakit apapun mereka hanya kata sehat yang bisa terucap untuk anaknya. "Iya, Ibu dan Ayah sehat kok," cetus Ibu ku saat itu.
Â
"Kakak! Adiknya yang satu ini kok tidak peluk, hah?" saat itu suaranya terdengar seperti Mahara tapi agak berbeda saat aku terakhir mudik 2 tahun lalu. Tiba-tiba tangannya mendekap bahuku dan aku terkejut, kupalingkan wajahku kebelakang dan seorang remaja setinggi ku dengan menunduk dengan topinya. Aku tidak mengenal siapa dia, Mahara tidak mungkin setinggi ini, dia kan masih 15 tahun.
Â
"Treenngg,.. Kakak!! Ini Mahara," saat dia mengangkat wajah dan topinya saat itu seperti rinduku ku pecah seketika, aku sedikit tidak percaya wajahku seperti membeku diam. "Kakak... kok diam. Peluk dong adiknya," tangannya dibuka lebar untuk menyambut pelukan kakaknya.
Â
"Mahara... adikku! Kau nya ini, sehat kau kan dek?" kupeluk dan kupegang wajahnya sambil memiringkan kepalnya seakan masih bingung dia adikku. "Kakak! Iya ini Mahara. Ini lihat tanda lahir adik," tanda lahirnya yang ada dipunggungnya benar ada saat dia membuka kaosnya.
Â