Karena kita tidak boleh lupa, dalam hal ini, manusia telah lama didefinisikan sebagai "homo sapiens", dan kemudian ia dibedakan sebagai "homo faber". Baru-baru ini, dikemukakan  manusia pada dasarnya telah menjadi "homo oeconomicus", tanpa mengurangi karakterisasinya sebagai "manusia massal" berdasarkan proses industrialisasi. Di sisi lain, manusia telah mampu membedakan "pathos" (cara perasaan) dan "ethos" (cara bertindak, cara hidup), di antara banyak ciri dan atribut lainnya. Singkatnya, manusia, selain memiliki naluri,  merupakan makhluk yang peka, makhluk yang berpikir (akal) dan berkeyakinan (roh).
Jadi, dengan begitu banyak penokohannya, manusia selalu mewakili sebuah titik ketegangan, yang tunduk pada kekuatan-kekuatan yang datang dari berbagai bidang, yang menjadikannya jauh lebih kompleks daripada yang ia duga, atau daripada apa yang dapat didiagnosis oleh ilmu pengetahuan bahkan dengan instrumennya yang paling canggih sekalipun._ Apollo _
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H